Ini Dia Pemilik Instagram Hingga TikTok, Medsos Kesayangan RI

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
26 September 2022 13:40
Facebook's new rebrand logo Meta is seen on smartphone in this illustration picture taken October 28, 2021. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration Foto: Logo Meta (EUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak Facebook pertama diluncurkan dan menjadi sensasi global, media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan modern, termasuk bagi warga Indonesia.

Lanskap media sosial juga mengalami banyak perubahan seiring berjalannya waktu, dengan sejumlah pemain besar yang sempat berjaya seperti My Space dan Path kini sudah tidak relevan dan sudah berhenti beroperasi.

Pemberhentian operasional tidak hanya terjadi pada pemain yang relatif kecil, melainkan juga milik konglomerasi raksasa seperti Google yang mengibarkan bendera putih di perang media sosial pasca ditutupnya akses Google Plus.

Lalu apa saja media sosial yang paling banyak digunakan di Tanah Air dan siapa saja konglomerasi atau taipan besar dibaliknya?

Mengacu pada riset Social Media Habit and Internet Safety yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar Populix, setidaknya ada 6 media sosial utama yang rajin diakses oleh masyarakat Indonesia.

Meta masih menjadi penguasa

Tiga dari enam sosial media utama yang dekat dengan jari netizen Indonesia merupakan unit bisnis dari Grup Meta, konglomerasi bisnis milik Marks Zuckerberg.

Meta yang semula bernama Facebook, kini menjadi induk perusahaan setelah portofolio bisnis bertambah. Selain Facebook, perusahaan juga membawahi dua raksasa media sosial lainnya yakni aplikasi berbagai foto dan video pendek Instagram serta aplikasi pesan singkat Whatsapp (WA).

Kepopuleran aplikasi tersebut tidak perlu diragukan lagi, dengan Instagram menjadi ceruk ekonomi baru serta WA secara defacto telah menggantikan posisi SMS yang sempat ramai digunakan pada era tahun 2000-an.

Sosial media ini menjadi sumber cuan utama Zuckerberg dan menempatkan dirinya sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Meski demikian, status quo Meta saat ini terancam dengan hadirnya sejumlah sosial media baru dan terlihat dari turunnya jumlah pengguna aktif bulanan di Facebook untuk pertama kalinya dalam sejarah tahun ini.

Selain itu Meta yang bisnis utamanya adalah periklanan, saat ini juga terancam oleh gelombang baru pengguna yang mulai sadar akan privasi data. Sebagian besar pendapatan mereka ikut terpangkas pasca Apple mengumumkan perubahan pada sistem operasi selulernya yang akan memberi pengguna iPhone kesempatan untuk memberi tahu pembuat aplikasi agar tidak mengikuti mereka di internet.

Sistem pelacakan itu adalah tulang punggung infrastruktur periklanan internet yang dijalankan Meta. Kebijakan ini pada dasarnya membuat iklan yang tampil menjadi kurang relevan, sehingga uang periklanan juga ikut turun.

Kedua hal tersebut akhirnya membuat saham Meta tersungkur tajam dan sejak awal tahun kapitalisasi pasarnya telah turun 58,52%.

Google juara video panjang

Google menjadi pemimpin di segmen video panjang lewat YouTube. Dalam survei Populix, YouTube juga masih menjadi raja media sosial di Indonesia dengan 94% responden yang disurvei menyebut bahwa mereka menggunakan aktif aplikasi ini dalam satu bulan sebelum survei dilaksanakan.

Secara global, YouTube juga merupakan situs paling banyak dikunjungi nomor dua, hanya kalah dari mesin pencari Google. Perusahaan berbagi video ini pertama kali diluncurkan tahun 2005 dan setahun kemudian diakuisisi oleh Google senilai US$ 1,65 miliar dalam bentuk saham Google.

Google yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin merupakan salah satu perusahaan paling berharga di dunia dan masuk dalam jajaran elite perusahaan dengan valuasi di atas US$ 1 triliun dolar. Meski demikian saham perusahaan tahun ini telah melemah 32%, akibat pengetatan kondisi moneter dan membuat pasar saham AS jatuh ke tren bearish.

TikTok Hingga Twitter
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading