Weekend Suram! IHSG Dibuka Merah, Terlempar dari Zona 7.200

Market - Putra, CNBC Indonesia
23 September 2022 09:17
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menghijau di 7.219,03 pada perdagangan Jumat (23/9/2022). Namun selang 7 menit IHSG berbalik terkoreksi 0,31% ke 7.196,82 dan kembali keluar dari zona 7.200.

Indeks acuan utama bursa domestik, kemarin menguat 0,43% di 7.218,91 setelah dibuka di zona merah.

Pelemahan di awal perdagangan ini selaras dengan yang terjadi di bursa Asia lainnya merespons amblesnya indeks utama Wall Street setelah The Fed mengumumkan kenaikan kembali suku bunga acuan sebesar 75 bps.


Akan tetapi pada perdagangan sesi kedua kemarin, IHSG mampu menjaga penguatan dan berakhir di zona hijau.

Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi pada hari Kamis (22/9) pasca pengumuman kenaikan suku bunga yang masih agresif oleh The Fed.

Hal ini membuat investor semakin khawatir bahwa kebijakan bank sentral untuk mengekang inflasi yang masih liar akan mendorong ekonomi ke jurang resesi.

Ketiga indeks utama Wall Street menyelesaikan sesi hari Kamis di zona merah. S&P 500 turun 0,84%, sedangkan indeks padat teknologi NASDAQ ambles 1,37%. Terakhir indeks perusahaan blue chip Dow Jones Industrial Average ditutup 107,10 poin lebih rendah, atau melemah 0,35%.

"The Fed membuka jalan bagi sebagian besar ekonomi dunia untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif yang [berpotensi] menyebabkan resesi global, dan seberapa parahnya akan ditentukan pada berapa lama inflasi turun," kata Ed Moya, seorang analis pasar senior di Oanda dilansir CNBC Internasional.

Kenaikan siklus kali ini sejatinya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan tetapi komentar The Fed yang mengindikasikan The Fed tetap hawkish membuat investor makin waswas. Tingkat suku bunga terminal atau posisi FFR di mana bank sentral akan mengakhiri rezim pengetatannya diproyeksikan akan mencapai 4,6%.

Selanjutnya imbal hasil Treasury kembali melonjak. Penjualan massif terjadi baik itu di surat utang tenor jangka pendek maupun jangka panjang. Imbal hasil obligasi melonjak lagi pada hari Kamis, dengan yield pada surat utang Treasury 10 tahun dan 2 tahun mencapai angka tertinggi multi-tahun baru. Yield obligasi10-tahun AS tembus 3,705%, naik drastis dari 3,511% pada Rabu dan merupakan peningkatan satu hari terbesar sejak Juni.

Hal ini menandakan bahwa kenaikan yield hari Kamis bukan sekadar tanggapan atas rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang mana seharusnya hanya berdampak pada dilepasnya obligasi jangka pendek oleh investor.

Ada spekulasi di Wall Street bahwa penjualan Treasury didorong setidaknya sebagian oleh keputusan Jepang untuk memperkuat yen dengan menjual dolar dan membeli mata uang Jepang. Namun, belum ada bukti nyata tentang efek itu.

TIM RISET CNBC INDONESIA  


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awas IHSG Kena Longsor Susulan di Hari Terakhir Sebelum Libur


(trp/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading