Bursa Asia Ditutup Terkoreksi, Tapi Tidak Untuk STI-IHSG

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
22 September 2022 16:37
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko) Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (22/9/2022), setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Indeks Nikkei Jepang ditutup melemah 0,58% ke posisi 27.153,83, Hang Seng Hong Kong ambles 1,61% ke 18.147,95, Shanghai Composite China terkoreksi 0,27% ke 3.108,91, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,63% menjadi 2.332,31.

Sedangkan untuk indeks Straits Times Singapura ditutup naik tipis 0,04% ke posisi 3.263,07 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat 0,43% menjadi 7.218,91.


Sementara untuk indeks ASX 200 Australia pada hari ini tidak dibuka karena adanya libur nasional dalam rangka hari berkabung wafatnya Ratu Elizabeth II.

Dari Jepang, bank sentral (Bank of Japan/BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level rendah, meski inflasi pada periode Agustus lalu sudah berada di atas target BoJ.

BoJ mempertahankan suku bunga acuannya di level ultra-longgar yakni -0,1%, sesuai dengan prediksi pasar dalam polling Reuters.

Keputusan tersebut diambil usai disepakati dalam pemungutan suara anggota dewan, yang dilaksanakan hanya beberapa jam pasca pasca bank sentral AS (Federal Reserves/The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bp).

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan suku bunga jangka pendek di wilayah negatif yang telah diterapkan selama lebih dari tujuh tahun terakhir. Langkah ini diambil guna melawan tren perlambatan nyata yang tengah terjadi dalam perekonomian negara tersebut.

Padahal, inflasi dari consumer price index (CPI) Jepang pada bulan lalu sudah berada di atas target BoJ, yakni menyentuh 2,8% (year-on-year/yoy), menjadi yang tertinggi sejak 2014 dan lajunya tercepat dalam hampir 31 tahun.

BoJ menilai bahwa langkah mempertahankan suku bunga ultra-longgarnya dilakukan untuk mempertahankan pemulihan ekonomi Jepang yang masih terdampak dari pandemi Covid-19.

Hal ini menjadikan BoJ salah satu bank sentral yang masih menerapkan sikap dovish-nya, di tengah sikap hawkish mayoritas bank sentral di dunia untuk membendung inflasi yang masih tinggi.

Sikap dovish BoJ juga sama seperti bank sentral China (People Bank of China/PBoC) yang juga masih bersikap dovish, karena perekonomian China belum sepenuhnya pulih.

Namun, BoJ yang masih bersikap dovish membuat mata uang yen semakin memburuk karena selisih antara suku bunga Jepang dengan The Fed makin melebar.

Di lain sisi, pelaku pasar di Asia sebagian besar masih menimbang sikap The Fed yang masih hawkish hingga inflasi melandai dan menyentuh targetnya di 2%.

The Fed resmi menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 75 basis poin (bp) dalam kali ketiga beruntun. Keputusan yang diperoleh dengan suara bulat 12 anggota komite tersebut akan menaikkan suku bunga acuan AS atau Federal Funds Rate (FFR) ke kisaran antara 3% dan 3,25%, level yang terakhir terlihat pada awal 2008.

Kenaikan ini sejatinya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan tetapi komentar The Fed yang mengindikasikan sikap hawkish-nya membuat investor makin waswas.

The Fed juga mengindikasikan bahwa pihaknya berencana untuk tetap agresif, menaikkan suku bunga menjadi 4,4% pada tahun depan. Angka ini naik dari pada proyeksi sebelumnya di Juni lalu yang diperkirakan akan mencapai 3,8%.

Inflasi global yang semakin liar memaksa mayoritas bank sentral utama dunia mengetatkan kebijakan moneternya dan menaikkan suku bunga secara tajam. Hal ini pada akhirnya berpotensi menyebabkan resesi, dengan sejumlah organisasi besar seperti Bank Dunia telah mewanti-wanti.

Namun, pengetatan kebijakan moneter hingga kini tidak diikuti oleh BoJ dan PBoC, karena mereka menilai bahwa perekonomian Jepang dan China masih jauh dari kata pulih.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Bangkit Mengekor Wall Street, Kecuali Shanghai


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading