IHSG Bisa ATH Lagi? Simak Deretan Sentimen Pasar Pekan Depan!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
18 September 2022 15:20
Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menyentuh posisi all time highnya di 7.377,49 pada Kamis (15/9). Namun, IHSG masih drop 1,02% di sepanjang pekan ini. Lantas bagaimana dengan kondisi pasar pekan depan?

Tim Riset CNBC Indonesia telah merangkum sentimen-sentimen yang bisa dicermati investor pekan depan.

Pertemuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed)

Semua mata tertuju pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan akan digelar pada 21-22 September 2022 untuk mendiskusikan kebijakan moneter terbarunya.

Jika mengacu pada alat ukur FedWatch, pasar memprediksikan peluang sebanyak 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 3%-3,25%. Sementara sisanya memproyeksikan The Fed akan lebih agresif lagi dengan menaikkan suku bunga sebesar 100 bps menjadi 3,25%-3,5%.

Hal tersebut terjadi setelah rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS per Agustus 2022 berada di 8,3% secara tahunan (yoy). Meskipun melandai dari bulan sebelumnya di 8,5%, tapi posisi tersebut masih berada di atas prediksi analis. Data inflasi tersebut menunjukkan bahwa inflasi masih tinggi dan meningkatkan potensi bahwa The Fed akan kembali agresif.

Sejatinya, kenaikan suku bunga berkorelasi negatif terhadap aset berisiko seperti saham. Saat suku bunga meningkat, bunga kredit pun turut naik dan akan membebani ekspansi korporasi dan konsumsi rumah tangga. Sehingga, pertumbuhan ekonomi pun akan melambat dan akhirnya para pelaku pasar akan menghindari aset berisiko dan beralih pada aset yang mempunyai nilai lindung.

Tidak hanya itu, kenaikan suku bunga oleh The Fed tentunya akan mendorong peningkatan permintaan akan dolar AS dan membuatnya semakin perkasa di pasar spot. Alhasil, dolar AS akan menekan mata uang dunia lainnya, tak terkecuali rupiah.

Bahkan, analis Goldman Sachs Group memprediksikan bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga acuannya dan membawa tingkat suku bunga menjadi 4%-4,25% pada akhir tahun ini. Mereka juga memproyeksikan tingkat pengangguran di AS akan naik menjadi 3,7% pada akhir 2022.

Analis Global S&P juga menyerukan hal yang serupa.

"Sikap agresif The Fed diperkirakan akan berlanjut dengan penetapan harga pasar dalam kenaikan 75 bp ketiga berturut-turut, meskipun kenaikan 100 poin juga ada di meja. Suku bunga diperkirakan akan mencapai 4,25 persen pada akhir 2022," kata Intelijen Pasar Global S&P dikutip Reuters.

Pertemuan Bank Indonesia (BI)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading