Review Sepekan

Pekan Ini, Harga Minyak Mentah Rebahan Lagi!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
18 September 2022 10:30
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo Foto: Ilustrasi: Minyak mengalir keluar dari semburan dari sumur 1859 asli Edwin Drake yang meluncurkan industri perminyakan modern di Museum dan Taman Drake Well di Titusville, Pennsylvania AS, 5 Oktober 2017. REUTERS / Brendan McDermid / File Foto

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia ambles 1% lebih selama sepekan, setelah bergerak fluktuatif. Lantas, bagaimana prediksi ke depan?

Pada perdagangan Rabu (14/9), minyak mentah berjangka Brent dan jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) kompak menguat. Sayangnya, pada Kamis (15/9), kedua jenis emas hitam berakhir terkoreksi.

Namun, pada Jumat (16/9/2022) minyak mentah jenis Brent kembali ditutup naik tipis 0,56% dibandingkan posisi sebelumnya ke US$91,35 per barel. Sedangkan jenis WTI tercatat US$85,11 per barel, menguat 0,01%.

Setelah bergerak cukup berayun, harga minyak mentah jenis Brent drop 1,6% dan WTI ambles 1,94% di sepanjang pekan ini.

Harga minyak mentah terbebani oleh keperkasaan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya, menguat 0,6% di sepanjang pekan ini dan melesat 15% di sepanjang tahun ini. Sehingga, harga minyak mentah menjadi lebih mahal untuk pembeli yang memegang mata uang lain dan mengurangi permintaan terhadap si emas hitam tersebut.

Selain itu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) juga akan menggelar pertemuan untuk membahas kebijakan moneter terbarunya pada 21-22 September 2022, yang diprediksikan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya untuk meredam inflasi yang meninggi. Jika benar terjadi, tentunya akan mendorong laju penguatan indeks dolar AS di pasar spot.

Analis OANDA menilai bahwa harga minyak mentah masih berada di tren penurunannya karena potensi berkurangnya permintaan dari China.

"Fundamental minyak sebagian besar masih bearish karena prospek permintaan China tetap menjadi tanda tanya besar dan karena inflasi yang melawan Fed tampaknya siap untuk melemahkan ekonomi AS," kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.

Bahkan, Badan Energi International (IEA) menilai bahwa pertumbuhan permintaan terhadap minyak mentah akan terhenti pada kuartal empat tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Eropa Mau Embargo Minyak Rusia, Harga Minyak Dunia Naik Lagi


(aaf/aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading