Tingkat Pengangguran Cuma 2,1%, Dolar Singapura Makin Mahal!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 September 2022 14:15
Ilustrasi dolar Singapura (CNBC Indonesa/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Singapura (CNBC Indonesa/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar tenaga kerja di Singapura semakin ketat, bahkan tingkat pengangguran kini sudah kembali ke level sebelum pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19). Alhasil, kurs dolar Singapura semakin mahal.

Pada perdagangan Rabu (14/9/2022), dolar Singapura melesat 0,58% ke Rp 10.615/SG$ di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Data yang dirilis data Kementerian Tenaga Kerja Singapura menunjukkan tingkat pengangguran di kuartal II-2022 turun menjadi 2,1% dari kuartal sebelumnya 2,2%. Tingkat pengangguran tersebut menjadi yang terendah sejak kuartal II-2018.

Data tersebut juga menunjukkan sepanjang kuartal II-2022, jumlah pekerja bertambah sebanyak 66.500 orang, lebih tinggi periode Januari - Maret sebelumnya 42.000 orang dan menjadi yang tertinggi kuartal II-2008.

Pasar tenaga kerja yang ketat menjadi kabar bagus, artinya perekonomian Singapura sedang berputar kencang. Di sisi lain, ada juga dampak negatifnya.

Ketika pasar tenaga kerja ketat, maka upah cenderung naik. Kenaikan tersebut bisa membuat belanja masyarakat semakin tinggi, pada akhirnya akan mendorong inflasi.
Seperti diketahui banyak negara kini sedang menghadapi masalah inflasi yang tinggi, termasuk Singapura.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) Singapura dilaporkan tumbuh 7% year-on-year (yoy) pada Juli, yang merupakan level tertinggi dalam 14 tahun terakhir, tepatnya sejak Juni 2008. Inflasi inti juga melesat 4,8% (yoy) dari Juni sebesar 4,4%.

Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) melaporkan, kenaikan inflasi tersebut akibat tingginya harga makanan, listrik dan gas. Harga listrik dilaporkan melesat 24% dibandingkan tahun lalu, lebih tinggi dari kenaikan Juni 20%. Kemudian harga makanan naik 6,1% (yoy), juga lebih tinggi dari bulan sebelumnya 5,4% (yoy).

Meski inflasi terus menanjak, MAS masih mempertahankan proyeksi inflasinya di tahun ini. Untuk inflasi inti diperkirakan sebesar 3% - 4%, dan inflasi headline sebesar 5% - 6%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar Singapura Liar Pekan Ini, Efek Pengetatan Moneter?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading