Duh! Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Semen RI Dihantam Krisis

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
13 September 2022 16:50
Produksi Semen Gresik, PT Semen Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Semen Gresik (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Pemasaran dan Supply Chain PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Adi Munandir blak-blakan perihal over capacity yang masih melanda industri semen di tanah air. Menurut Adi, over capacity adalah murni terkait kapasitas produksi di dalam negeri, bukan karena impor.

"Jadi tidak ada impor semen," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (13/9/2022).



Adi mengatakan, industri semen saat ini mengalami pertumbuhan kapasitas produksi, namun utilisasi rendah.

"Yang terjadi ini membuat profitabilitas industri mungkin sudah turun sekitar 30% dibandingkan 3-4 tahun terakhir," katanya.

"Dan kalau kita lihat di regional mungkin di Indonesia termasuk semen dengan harga yang terendah. Kalau di sini US$ 60 - US$ 70 per ton, di luar di China misalkan bisa sampai di atas US$ 100. Ini yang membuat industri ini menjadi sangat kompetitif gitu ya karena over capacity yang terjadi."

Adi menilai pemerintah sudah berupaya memberikan dukungan demi mengurangi tekanan itu. Salah satunya adalah moratorium atau pembatasan kapasitas baru.

"Itu sudah dilakukan pembahasan antara Kemenperin dan BKPM waktu itu dan diputuskan koordinasi antara dua kementerian dan asosiasi, penambahan kapasitas baru hanya boleh dilakukan di tempat dengan supply and demand tidak balance itu hanya di Papua," ujar Adi.

"Tapi yang terjadi hari ini masih ada pabrik-pabrik yang baru yang terbangun seperti di Kalimantan Timur misalkan atau di Jawa dengan alasan bahwa itu adalah izin-izin lama yang sudah diberikan tetapi baru direalisasikan sekarang. Jadi sekarang di tahun 2021-2022 ada dua pabrik baru yang beroperasi di Pulau Jawa. Semen Grobogan dan Semen Singa Merah," lanjutnya.

Adi menambahkan, situasi sekarang bertambah sulit karena ada tekanan biaya dari kenaikan bahan bakar minyak yang mencapai 32%.

"Kemudian batu bara dan juga termasuk terkait dengan kantung," katanya.

Lebih lanjut, Adi menambahkan, ketersediaan kantung kraft dari Rusia terbatas. Untuk itu, diversifikasi dilakukan oleh perseroan dari jenis bahan kantung semen.

"Main brand kita menggunakan kraft, sedangkan brand lain kita menggunakan material lain. Dengan ini kita bisa menjaga keberlangsungan dari produksi dengan menggunakan beberapa jenis kantung," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tertekan Harga Energi, Tapi Laba SMCB Naik Jadi Rp 249 M


(miq/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading