Gak Kaget RI Deflasi, IHSG Sesi I Ditutup Menguat Tipis!

Market - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
01 September 2022 12:14
Karyawan melintas di depam layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/7/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat pada penutupan perdagangan sesi I Kamis (1/9/2022) pasca Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2022. Di sisi lain isu kenaikan BBM masih hangat diperbincangkan.

IHSG dibuka melemah 0,17% di posisi 7.166,43 dan ditutup menguat tipis 0,05% atau 3,66 poin ke 7.182,25 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat naik ke Rp 7,31 triliun dengan melibatkan lebih dari 19 miliar saham.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak perdagangan dibuka IHSG sudah berada di zona merah, selang 2 menit saja IHSG terpantau ambles 0,56% di 7.138,05. Pukul 10:15 WIB indeks berbalik arah ke zona hijau, hingga pukul 10:35 WIB IHSG menguat 0,11% ke 7.186,72 dan konsisten berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Level tertinggi berada di 7.197,06 sesaat sebelum penutupan perdagangan dan level terendah berada di 7.135,03 sesaat setelah perdagangan dibuka. Mayoritas saham siang ini menguat yakni sebanyak 282 unit, sedangkan 237 unit lainnya melemah, dan 174 sisanya stagnan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya hari ini, yakni mencapai Rp 932,4 miliar. Sedangkan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 429,6 miliar dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi ketiga sebesar Rp 304,2 miliar.

Bursa saham AS (Wall Street) kembali ambrol pada perdagangan Rabu waktu setempat. Dengan demikian, kiblat bursa saham dunia ini sudah 4 hari tak pernah menguat.

Indeks Dow Jones melemah 0,88% dan S&P 500 turun 0,78%. Mayoritas indeks saham acuan bursa regional Asia Pasifik juga mengalami pelemahan pagi ini kecuali Shanghai Composite yang naik 0,31%.

Penyebabnya masih sama, aksi jual melanda Wall Street sejak Jumat lalu setelah ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell menegaskan akan terus menaikkan suku bunga dan menahannya dalam waktu yang lama sampai inflasi kembali ke 2%.

Tidak hanya The Fed, bank sentral lainnya yang juga bermasalah dengan inflasi tinggi juga bisa melakukan hal yang sama, resesi dunia pun di depan mata. Alhasil risiko resesi dunia menjadi semakin kencang.

Umumnya IHSG cenderung melemah di bulan Agustus. Namun di tahun ini, IHSG justru mencatatkan kinerja yang positif. Meskipun statistik menunjukkan kinerja positif, tetapi tantangan IHSG cukup besar.

Sementara, pasar keuangan Tanah Air hingga hari ini masih diwarnai beberapa sentimen kabar kurang menyenangkan dari Amerika Serikat (AS) hingga isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar.

Rencana kenaikan harga BBM sudah menyeruak sejak beberapa hari terakhir. Pemerintah juga berkali-kali mengeluhkan beratnya beban subsidi yang mencapai Rp 502 triliun. Dalam beberapa waktu terakhir, sinyal kenaikan harga BBM terus berembus kencang.

Apabila tidak dinaikkan, maka pemerintah harus menanggung subsidi yang besarnya mencapai Rp 700 triliun.

Kenaikan harga BBM subsidi bisa mengerek inflasi yang pada akhirnya berdampak buruk bagi perekonomian Tanah Air.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2022. Secara bulanan memang terjadi deflasi, tetapi secara tahunan inflasi tetap berada di level tinggi.

Pada Kamis (1/9/2022), Kepala BPS Margo Yuwono melaporkan terjadi deflasi 0,21% pada Agustus 2022 dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Kali terakhir terjadi deflasi adalah Februari 2022.

Namun dibandingkan Agustus 2021 (year-on-year/yoy), terjadi inflasi 4,69%. Meski masih relatif tinggi, tetapi melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang 4,94%.

Rilis data inflasi hari ini sesuai dengan ekspektasi. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi bulanan pada Agustus 2022 sebesar -0,11% sementara inflasi tahunan 4,83%.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

IHSG Balas Dendam, tapi Apa Kuat ke 7.000 Lagi?


(aum/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading