Menanti Rilis Inflasi AS, IHSG Sesi I Terkoreksi Nyaris 1%

Market - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
10 August 2022 11:40
Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terkoreksi pada penutupan perdagangan sesi I Rabu (10/8/2022) di tengah penantian investor cenderungwait and seemenanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Juli 2022.

IHSG dibuka anjlok 0,42% di posisi 7.073,38 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,88% atau 62,32, poin ke 7.040,56 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp 6,53 triliun dengan melibatkan lebih dari 14 miliar saham.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak pagi IHSG sudah berada di zona merah. Selang 5 menit perdagangan IHSG terpantau terkoreksi 0,65% ke 7.056,9 dan melanjutkan perlemahan dengan koreksi 0,79% ke 7.046,52 pukul 09:57 WIB. Indeks bergerak konsisten di zona merah hingga penutupan perdagangan sesi I.


Level tertinggi berada di 7.086,83 sesaat setelah perdagangan dibuka dan level terendah berada di 7.021.67 sekitar pukul 10:40 WIB. Mayoritas saham siang ini melemah yakni sebanyak 290 unit, sedangkan 192 unit lainnya menguat, dan 172 sisanya stagnan.

Setelah mencatatkan rekor menguat 7 hari beruntun sejak pekan lalu, sebenarnya IHSG rentan mengalami koreksi. Penguatan signifikan dan yang terjadi terus menerus memang membuka peluang adanya risiko aksi jual investor (profit taking).

Penguatan IHSG beberapa hari belakangan dipicu oleh katalis positif dari data ekonomi berupa penjualan ritel yang cemerlang.

Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel bulan Juni meningkat 4,1% secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya di 2,9% yoy. Penjualan ritel Indonesia untuk bulan Juli 2022 diperkirakan masih tumbuh positif dengan laju 8,7% yoy.

Di sisi lain, risiko dari eksternal juga masih sangat terasa. Semalam indeks saham Wall Street juga ditutup terkoreksi. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi bursa Tanah Air.

Terkoreksinya bursa Wall Street terjadi setelah Micron yang merupakan perusahaan pembuatchipmemori komputer, memperingatkan bahwa pendapatan mereka akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya karena kendala rantai pasokan. Sontak, saham Micron anjlok lebih dari 3% di perdagangan.

Sepertinya pekan ini jadi pekan yang buruk untuk perusahaan pembuatchip,karena Nvidia juga melaporkan proyeksi pendapatan yang lebih rendah dari prediksi pasar pada Senin lalu, sehingga ikut menekan saham perusahaan sejenisnya kemarin.

Dari China, Biro Statistik Nasional melaporkan inflasi China kembali meningkat sebesar 2,7% pada Juli 2022 secara year on year/yoy. Angka ini di bawah ekspektasi Ekonom dalam pollingTrading Economicsmemperkirakan inflasi meningkat sebesar 2,9%.

Untuk hari ini, investor global juga masih menunggu rilis data inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) yang akan dirilis pada Rabu pagi waktu AS yang akan memberikan investor lebih banyak klarifikasi tentang langkah The Fed selanjutnya pada September.

IHK Negeri Paman Sam pada bulan lalu diperkirakan akan sedikit menurun ke angka 8,7%. Hal ini karena adanya penurunan harga minyak mentah dunia dan akan memberikan sinyal mengenai langkah selanjutnya dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Investor tentunya masih mengamati dengan cermat mengenai bagaimana perjuangan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) melawan inflasi.

Jika IHK AS tumbuh di atas ekspektasi konsensus pasar di angka 8,7%, maka aset berisiko seperti saham dan kemungkinan akan mengalami koreksi karena ekspektasi pasar bahwa The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunganya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Ambyar Setelah Lebaran Lumrah, Tapi Tahun Ini Terburuk


(aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading