Pasar Fokus Data Inflasi AS, Dolar AS Lesu, Rupiah Ngegas!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
09 August 2022 11:37
FILE PHOTO: An Indonesia Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo Foto: REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah berhasil mempertahankan penguatannya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga di pertengahan perdagangan Selasa (9/8/2022). Terkoreksinya indeks dolar AS di pasar spot, membuka peluang penguatan Mata Uang Garuda.

Mengacu pada data Refinitv, rupiah terapresiasi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,1% di Rp 14.860/US$. Kemudian, rupiah memangkas penguatannya menjadi 0,01% menjadi Rp 14.865/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Penguatan Mata Uang Garuda seiring dengan indeks dolar AS yang terkoreksi 0,08% ke posisi 106,35 karena investor masih menunggu rilis data inflasi AS per Juli 2022 dijadwalkan akan dirilis pada Rabu (10/8).

Konsensus analis Reuters memprediksikan bahwa angka inflasi AS Juli 2022 akan berada di 8,7% secara year-on-year (yoy). Turun jika dibandingkan dengan angka inflasi di bulan sebelumnya di 9,1% yoy. Secara bulanan, inflasi juga diprediksi turun 0,2% dari 1,3% di bulan sebelumnya.

Namun, rilis data tenaga kerja yang solid dan angka pengangguran menurun ke 3,5% menunjukkan bahwa ekonomi AS masih tumbuh meski dibayangi resesi.

Sehingga, meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bps) di pertemuan selanjutnya.

"Ekspektasi bahwa Fed dapat mengumumkan kenaikan suku bunga 75 bps lagi pada 21 September telah meningkat di belakang laporan gaji Juli AS yang kuat (Jumat)," kata Jane Foley, ahli strategi mata uang senior di Rabobank dikutip Reuters.

Sementara itu, survei yang dihimpun oleh Fed New York terhadap Ekspektasi Konsumen menunjukkan bahwa konsumen memprediksikan angka inflasi akan berada di 6,2% pada 2023 dan 3,2% pada tiga tahun ke depan.

Meskipun, angka inflasi tersebut masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan target inflasi The Fed di 2%, tapi prediksi tersebut telah menurun dari survei di Juni, yang berada masing-masing di 6,8% dan 3,6%.

Penurunan ekspektasi inflasi tersebut dipicu oleh turunnya harga bahan bakar dan keyakinan bahwa harga makanan dan rumah akan melandai ke depannya.

Mengacu pada data lembaga AAA, harga bahan bakar telah turun sekitar 67 sen per galon selama sebulan terakhir meskipun tetap tinggi 87 sen per galon jika dibandingkan pada 2021.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah merilis data penjualan ritel Indonesia per Juni 2022, di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2022 tercatat sebesar 206,6 atau tumbuh 4,1% secara tahunan (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan diantaranya pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman dan Tembakau.

Namun, secara bulanan, penjualan eceran turun -11,8% (mtm) pada Juni 2022, terutama pada Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Peralatan Informasi dan Komunikasi dan Makanan, Minuman dan Tembakau.

Dalam kurun 5 tahun terakhir, kontribusi sektor ritel terhadap PDB sudah lebih dari 10% dan konsumsi masyarakat menyumbang sebesar 53% hingga 56%.

BI memperkirakan IPR pada Juli 2022 akan berada di 204,9 atau meningkat 8,7% secara tahunan didukung oleh peningkatan penjualan subkelompkm Sandang, kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Suku Cadang.

Secara bulanan, penjualan ritel diperkirakan akan membaik menjadi -0,8%, didorong oleh peningkatan penjualan kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor serta kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading