Internasional

Harga Energi 'To The Moon', Laba 6 Raksasa Migas Ini Meroket!

Market - luc, CNBC Indonesia
02 August 2022 17:15
FILE PHOTO:  A combination of file photos shows the logos of five of the largest publicly traded oil companies; BP, Chevron, Exxon Mobil, Royal Dutch Shell, and Total./File Photo Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman krisis energi, termasuk minyak dan gas bumi (migas), yang dipicu oleh perang Rusia di Ukraina telah melambungkan harga komoditas tersebut.

Kenaikan harga yang signifikan tersebut menjadi berkas bagi perusahaan migas dalam meraup cuan pada tahun ini. Beberapa di antaranya bahkan mampu membukukan profit berkali-kali lipat dari kondisi 'normal'.

Berikut kinerja sejumlah perusahaan migas global di tengah lonjakan harga komoditas tersebut.


1. BP

Perusahaan migas raksasa asal Inggris ini mampu mencatatkan kenaikan kinerja keuangan secara signifikan pada kuartal II/2022.

Dalam keterangan perusahaan yang dikutip AFP, Selasa (2/8/2022), laba bersih BP pada kuartal II/2022 mencapai US$ 9,3 miliar atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu.

Hasil itu berbalik dari kerugian senilai US$ 20,4 miliar pada kuartal I/2022 menyusul keputusan perusahaan itu untuk angkat kaki dari Rusia.

Dalam kesempatan yang sama, BP juga mengumumkan peningkatan dividen kuartalan sebesar 10%. Harga sahamnya pun telah naik hampir 20% pada tahun ini.

2. Shell

Perusahaan migas asal Belanda yang kini telah berada di bawah bendera Inggris ini mencatatkan laba bersih senilai US$ 18 miliar pada kuartal II/2022 atau meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan laba itu sekaligus membalikan rugi bersih pada

"Kami memberikan hasil keuangan yang kuat," kata kepala eksekutif Ben van Beurden, dikutip AFP.

Adapun, kebangkitan Shell sejatinya telah dimulai pada tahun lalu. Di kuartal II/2021, perusahaan tersebut mampu mencetak laba bersih senilai US$ 3,4 miliar setelah membukukan kerugian sebesar US$ 18,1 miliar pada kuartal II/2020.

3. ExxonMobil

Raksasa migas asal Amerika Serikat (AS) ini berhasil membukukan laba bersih senilai US$ 17,9 miliar pada kuartal II/2022, hampir empat kali lipat dibandingkan dengan profit pada periode yang sama tahun lalu senilai US$ 4,7 miliar.

Hasil itu tak lepas dari pendapatan yang meroket 68,7% menjadi US$ 11,3 miliar.

Hasil ExxonMobil juga didorong oleh kinerja yang kuat dalam bisnis hilirnya di tengah harga bahan bakar yang tinggi dan kapasitas penyulingan yang terbatas.

"Pendapatan dan arus kas diuntungkan dari peningkatan produksi, realisasi yang lebih tinggi, dan pengendalian biaya yang ketat," kata Chief Executive Darren Woods.

"Hasil kuartal kedua yang kuat mencerminkan fokus kami pada fundamental dan investasi yang kami lakukan beberapa tahun lalu dan bertahan melalui pandemi."

4. TotalEnergies

Raksasa energi asal Prancis TotalEnergies mencetak laba bersih senilai US$ 5,7 miliar pada kartal II/2022, melonjak dari US$ 2,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

"Invasi Rusia ke Ukraina terus berdampak pada pasar energi pada kuartal kedua, dengan harga minyak rata-rata lebih dari US$ 110 per barel," kata kepala eksekutif Patrick Pouyanne dalam sebuah pernyataan.

Adapun, penjualan tercatat melonjak 37% menjadi US$ 74,8 miliar.

5. Eni

Perusahaan migas asal Italia ini mampu membukukan laba bersih senilai US$ 3,9 miliar atau naik hingga 15 kali lipat dibandingkan dengan realisasi profit pada periode yang sama tahun lalu.

Hasil tersebut ditopang oleh penjualan yang meroket sebesar 94% sekaligus melampaui ekspektasi para analis.

Seperti sektor lainnya, Eni mendapat untung dari melonjaknya harga minyak dan gas terkait dengan pemulihan global setelah pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina.

Satu-satunya hasil minor pada kinerja kuartal II/2022 adalah produksi hidrokarbon yang turun 1% menjadi 1,57 juta barel per hari.

Adapun, perusahaan telah mulai menyeimbangkan portofolionya dengan peningkatan pengembangan energi terbarukan, dan berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari produk energinya hingga 80% pada 2050.

6. Chevron

Raksasa migas asal AS mencatatkan laba bersih senilai US$ 11,6 miliar pada kuartal II/2022, melonjak tajam dari realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 3,1 miliar.

Hasil itu sejalan dengan pendapatan yang naik hingga 80% menjadi US$ 64 miliar.

CEO Chevron Mike Wirth mengatakan perusahaannya berkomitmen untuk terus meningkatkan pasokan energi guna membantu memenuhi tantangan yang dihadapi pasar global.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ekonom: Jika Harga Minyak Terus Meroket, BBM Akan Ikut Naik


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading