Alert! Asing Sedang Getol Obral Saham dan Obligasi RI Nih

Market - Putra, CNBC Indonesia
11 July 2022 07:10
Karyawan melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/7/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing tampaknya masih enggan untuk masuk ke aset-aset keuangan dalam negeri. Outflow masih terjadi di pasar obligasi maupun saham minggu lalu.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat asing jual bersih Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 3,54 triliun pada periode 4-7 Juli 2022.

Namun di pasar saham asing mencatatkan net sell sebesar Rp 2,56 triliun di pasar reguler dan Rp 2,66 triliun di seluruh pasar pekan lalu.

Jika ditarik mundur lebih jauh, asing keluar dari pasar SBN sebesar Rp 117,9 triliun. Berbeda nasib dengan pasar obligasi negara yang mencatatkan outflow, pasar saham masih mencatatkan inflow jumbo.

Secara year to date (ytd) investor asing membukukan jual bersih di pasar reguler senilai Rp 49,33 triliun meskipun kalau dicermati lagi, investor asing sebenarnya cukup getol melepas saham-saham RI sebulan terakhir. 

Data perdagangan mencatat asing net sell di pasar reguler saham senilai Rp 9,57 triliun dalam satu bulan terakhir.

Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, ketika terjadi outflows, saham-saham big cap lah yang paling banyak dilepas oleh asing.

Secara global sentimen akan probabilitas perlambatan ekonomi yang meningkat masih dominan di kalangan pelaku pasar.

Di AS sinyal resesi kembali muncul. Pembalikan kurva imbal hasil atau inverted yield curve kembali terjadi pekan ini.

Secara historis, pembalikan kurva imbal hasil menjadi leading indicator bahwa ekonomi AS akan segera memasuki resesi.

Kemungkinan resesi di AS disebabkan karena laju inflasi yang sangat tinggi dan juga pengetatan kebijakan moneter yang agresif.

Likuiditas yang terserap di sistem keuangan membuat investor mencemaskan bahwa output perekonomian Paman Sam akan mengalami kontraksi.

Namun di saat yang sama, kebijakan moneter AS yang ketat tersebut juga membuat indeks dolar AS menguat tajam.

Indeks dolar AS sudah berada di kisaran tertingginya dalam satu dekade. Penguatan greenback turut menumbalkan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Aliran modal asing pun kembali keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia, juga membebani kinerja rupiah.

Dengan pelemahan rupiah yang mendekati Rp 15.000/US$ maka wajar jika yield obligasi pemerintah naik dan saham pun terkoreksi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

So Bad! Trio Rupiah, Obligasi, & Saham RI 'Kebakaran' Semua


(trp/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading