Batu Bara Menuju US$ 400/Ton, Saham-Sahamnya Melesat!

Market - Putra, CNBC Indonesia
05 July 2022 14:14
Karyawan melintas di depam layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/7/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten batu bara kembali menjadi pendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (5/7/2022).

Harga batu bara kontrak acuan global ICE Newcastle naik 4,39% ke US$ 391,45/ton. Harga batu bara betah di dekat level psikologis US$ 400/ton.

Kenaikan tersebut menjadi katalis positif untuk harga saham produsen batu bara domestik. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) memimpin penguatan dengan apresiasi 9,32%.


Di posisi kedua ada saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang menguat 9,05%. Selanjutnya ada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang merupakan tambang batu bara pelat merah dengan kenaikan 7,81%.

Saham PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga ikut menguat lebih dari 5% pada 14.00 WIB. Tak luput harga saham anak usaha ADRO yaitu PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pun naik 4% lebih siang ini.

Pemicu kenaikan harga batu bara adalah rencana Eropa untuk kembali beralih ke bahan bakar fosil tersebut.

Rencana tersebut merespons krisis energi yang dialami oleh Benua Biru akibat perang Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut dan membuat pasokan gas langka.

Jerman, Italia, Austria dan Belanda kompak memandang penggunaan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara sebagai solusi untuk keluar dari krisis energi yang saat ini melanda.

Kondisi juga diperparah dengan Australia yang juga terancam mengalami krisis energi. Sampai saat ini memang Australia belum melakukan aksi pelarangan ekspor batu bara.

Namun di tengah tren kebijakan proteksionisme yang dilakukan di banyak negara yang marak saat ini, maka ancaman krisis energi di Negeri Kangguru patut menjadi perhatian.

Eropa yang selama ini mendapatkan pasokan energi dari Rusia pun kini harus putar otak untuk mencari suplai pengganti.

Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia berpeluang mengambil pasar Eropa di tengah kondisi seperti sekarang ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Sempat Balik ke 7.000, Saham Batu Bara Pimpin Penguatan


(trp/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading