Ketua The Fed "Bersabda" Lagi, Awas Rupiah Makin Terpuruk

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 June 2022 07:53
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sedang menjadi primadona akibat ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global, serta The Fed (bank sentral AS) yang agresif dalam menaikkan suku bunga. Alhasil rupiah melemah 2 hari beruntun pada perdagangan Rabu.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah tercatat melemah 0,09% ke Rp 14.849/US$ kemarin dan berisiko berlanjut pada perdagangan Kamis (30/6/2022). Ketua The Fed Jerome Powell yang berbicara Rabu kemarin mengatakan ancaman terbesar bagi perekonomian AS adalah inflasi yang persisten.

Berbicara di European Central Bank Forum, Powell menyatakan tidak bisa menjamin perekonomian AS terhindar dari resesi akibat kenaikan suku bunga agresif. 


Pernyataan tersebut menegaskan The Fed akan terus menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi, meski perekonomian AS berisiko mengalami resesi. Kenaikan suku bunga dan resesi membuat dolar AS menjadi primadona.

Tanda-tanda pelaku pasar beralih ke dolar AS terlihat dari posisi beli bersih (net long) yang naik tajam. Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan posisi spekulatif net long dolar AS melonjak US$ 1,52 miliar atau sekitar Rp 22,5 triliun (kurs Rp 14.800/US$) dalam sepekan yang berakhir 21 Juni.

Kenaikan tersebut artinya para spekulan semakin banyak memborong dolar AS, ketimbang mata uang utama lainnya, yen, euro, poundsterling, franc dolar Kanada dan dolar Australia.

Kenaikan net long tersebut bisa menjadi indikasi dolar AS akan terus menguat, dan rupiah tertekan.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR sejak 15 Juni lalu menembus ke atas resisten kuat di kisaran Rp 14.730/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 61,8%. Sejak saat itu, rupiah terus mengalami tekanan.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Rupiah sampai saat ini masih berada di atas Rp 14.730/US$, yang memberikan tekanan semakin besar.

Resisten terdekat berada di kisaran Rp 14.860/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah ke Rp 14.880/US$ hingga 14.900/US$.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian kini bergerak naik dan mencapai wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

idrGrafik: Rupiah 1 Jam
Foto: Refinitiv

Stochastic yang berada di wilayah jenuh beli memberikan peluang penguatan rupiah. Apalagi, stochastic pada grafik 1 jam yang digunakan untuk memproyeksikan pergerakan harian sudah berada di dekat wilayah jenuh beli, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi lebih besar.

Rupiah saat ini masih tertahan support, di kisaran Rp 14.8400/US$, jika ditembus, ada peluang ke Rp 14.820/US$ - Rp 14.800/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Meroket 3%, Dolar Australia Kini Lebih Mahal Dari Singapura


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading