Alert! Wall Street Ambrol Lagi, Bursa Asia Dibuka Memerah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
29 June 2022 08:54
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Dec. 2, 2019. Asian stock markets have risen after Chinese factory activity improved ahead of a possible U.S. tariff hike on Chinese imports. Benchmarks in Shanghai, Tokyo and Hong Kong advanced. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung melemah pada perdagangan Rabu (29/6/2022), menyusul bursa saham Amerika Serikat (AS) yang kembali terkoreksi pada Selasa kemarin.

Indeks Nikkei Jepang dibuka merosot 0,92%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,28%, Shanghai Composite China melemah 0,36%, Straits Times Singapura turun 0,17%, ASX 200 Australia terkoreksi 0,51%, dan KOSPI Korea Selatan ambrol 1,32%.

Investor di Asia-Pasifik akan memantau beberapa rilis data ekonomi seperti penjualan ritel Australia periode Mei 2022 serta data indeks keyakinan konsumen (IKK) Jepang periode bulan ini.


Sementara itu dari Jepang, data penjualan ritel naik 3,6% pada Mei lalu, di mana penjualan ritel Negeri Sakura sudah mengalami kenaikan dalam tiga bulan beruntun.

Di Korea Selatan, IKK pada bulan ini turun ke angka 96,4, dari sebelumnya pada bulan lalu di angka 102,6, menurut survei dari bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK).

Hal ini menandakan bahwa sentimen dari perilisan data ekonomi di kawasan Asia-Pasifik cenderung beragam. Apalagi dari China, ada sedikit kabar baik, di mana pemerintah setempat akhirnya melonggarkan karantina bagi para pelancong internasional.

Para pelancong internasional yang berkunjung ke China hanya diwajibkan karantina di fasilitas darurat penanganan Covid-19 selama tujuh hari, kemudian tiga hari berikutnya boleh dihabiskan di tempat tinggal mereka masing-masing.

Hal tersebut menjadi sinyal kepada pasar bahwa Beijing telah melonggarkan sikap ketatnya dalam memberantas Covid-19.

Sebelumnya pada akhir pekan lalu, pemerintah Beijing mengatakan akan mengizinkan sekolah dasar dan menengah untuk melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Begitu juga dengan Shanghai yang telah menyatakan kemenangan atas virus corona (Covid-19) setelah melaporkan kasus lokal nol untuk pertama kalinya.

Pada Sabtu lalu, jumlah kasus Covid-19 di Negeri Tirai Bambu cenderung sudah lebih rendah dalam beberapa hari terakhir. Komisi pendidikan ibu kota menyatakan semua sekolah dasar dan menengah di ibu kota dapat kembali melakukan tatap muka mulai Senin kemarin.

Shanghai akan secara bertahap melonggarkan untuk makan di restoran mulai hari ini di daerah berisiko rendah dan daerah tanpa penyebaran Covid-19. Shanghai juga melaporkan tidak ada kasus lokal baru yang bergejala maupun tidak bergejala.

Meski sentimen di Asia-Pasifik cenderung beragam, tetapi investor cenderung berhati-hati setelah bursa saham AS, Wall Street kembali berjatuhan pada perdagangan Selasa kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,56% ke posisi 30.946,99, S&P 500 ambruk 2,01% ke 3.821,55, dan Nasdaq Composite anjlok 2,98% ke 11.181,54.

Merosotnya kembali tiga indeks utama di Wall Street terjadi setelah data ekonomi yang dirilis kemarin cenderung mengecewakan.

Indeks keyakinan konsumen (IKK) AS versi Conference Board (CB) jatuh ke angka 98,7 pada bulan ini, dari sebelumnya di angka 103,2 pada Mei, meleset dari perkiraan Dow Jones 100.

Data IKK yang lemah tersebut disebabkan oleh kekhawatiran resesi yang telah meningkat akhir-akhir ini karena bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mencoba untuk memerangi lonjakan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuannya secara agresif.

Conference Board juga mengatakan bahwa ekspektasi inflasi 12 bulan untuk survei kepercayaan konsumen berada di angka 8% pada Juni 2022, menjadi yang tertinggi sejak Agustus 1987.

"Saat ini kita berada pada titik belok dalam ekonomi, di mana pengeluaran aktual dan aktivitas ekonomi masih positif, namun kepercayaan konsumen dan kondisi keuangan (terutama suku bunga) menunjukkan perlambatan ke depan," kata Chris Zaccarelli, kepala investasi Independent Advisor Alliance, dikutip dari CNBC International.

Investor juga masih mencari-cari sekaligus mengevaluasi apakah pasar saham saat ini sudah mencapai bottom-nya dan berharap rebound akan bertahan lama atau masih belum menyentuh bottom-nya dan berpotensi terkoreksi kembali.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Bangkit Mengekor Wall Street, Kecuali Shanghai


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading