Harga Batu Bara Akhirnya Naik, Tapi Tipis

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
29 June 2022 07:15
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Batu bara tidak mau lama-lama bergerak dalam tren pelemahan. Pada perdagangan Selasa (28/6/2022), harga batu bara kontrak Agustus di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 376,45 per ton. Naik 0,15%.

Penguatan harga batu bara kemarin memutus tren pelemahan yang berlangsung pada dua hari perdagangan terakhir. Dalam sepekan, harga batu bara masih melemah 4,8% secara point to point.

Namun, dalam sebulan harga batu bara sudah menguat 1,6% dan dalam setahun melesat 205,4%.



Faktor penggerak harga batu bara masih didorong oleh rencana negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Austria, dan Belanda kembali menggunakan pembangkit listrik batu bara. Pelonggaran karantina di China juga menjadi sentimen positif lain yang menopang penguatan harga batu bara kemarin.

Permintaan batu bara dari Eropa masih tinggi meskipun pasokan di beberapa pelabuhan utama Eropa sudah memadai. Kekhawatiran krisis energi membuat negara Eropa memborong dan mempercepat pembelian batu bara.

Harga batu bara sempat turun pada Jumat pekan lalu dan Senin kemarin karena harga gas yang juga sedikit melandai. Namun, masih ada kekhawatiran jika harga gas bisa kembali meningkat karena perawatan jalur gas Nord Stream 1 tidak akan selesai sesuai jadwal yang direncanakan yakni 11-21 Juli mendatang.

Rusia telah memangkas aliran gas ke sejumlah negara Eropa yang dialirkan melalui Nord Stream 1. Rusia mengatakan pemangkasan dilakukan karena ada kerusakan tetapi banyak yang meyakini tindakan tersebut sebagai balasan atas sanksi Eropa.

"Semua orang membicarakan perawatan Nord Stream 1. Selama belum ada kejelasan mengenai kapan selesai perawatan tersebut makan harga gas akan terus naik ada kemungkinan harga gas naik.," tutur salah seorang trader seperti dilansir Montel News.

Menguatnya harga batu bara juga dibantu oleh kebijakan China untuk memperlonggar aturan karantina. Beijing memangkas lama karantina wajib bagi pelancong luar negeri menjadi tujuh hari ditambah tiga lagi pemantauan di rumah. Sebelumnya, China menerapkan karantina hingga 21 hari.

China menutup perbatasan internasionalnya pada Maret 2020. Setelah itu, jumlah penerbangan internasional masih sangat dibatasi oleh Beijing dalam upaya untuk menekan kasus virus impor yang mungkin tiba ke negara itu.

Pelonggaran ini menjadi kabar baik dan diharapkan bisa mempercepat pemulihan ekonomi Negara Tirai Bambu. Pemulihan ekonomi China akan berdampak besar terhadap harga batu bara di tingkat global karena Cina merupakan konsumen terbesar batu hitam.

Hingga Mei, permintaan harga batu bara dari China masih lemah, terutama sebagai dampak lockdown di sejumlah wilayah. Secara kumulatif, produksi batu bata China pada Januari- Mei mencapai 1,81 miliar, atau naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor batu bara Beijing turun 13,6% menjadi 96 juta ton pada lima bulan pertama tahun ini. Permintaan dari Negara Tirai Bambu diperkirakan juga akan meningkat karena musim panas segera datang.

"Penggunaan batu bara di sejumlah pembangkit listrik mulai naik karena meningkatnya suhu udara. Kami harus membeli banyak batu bara sebagai persiapan," tutur trader di Jiangsu seperti dilansir Coalmint.

Penggunaan listrik batu bara di sejumlah kota diperkirakan akan meningkat sejalan kenaikan suhu. Penggunaan listrik di Shanghai, misalnya, diperkiraakan akan naik hingga 35 Giga Watt (GW) pada periode Juli-Agustus, naik 4.38% dibandingkan musim panas lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gaskeun! Harga Batu Bara Naik Hampir 15% dalam Sepekan


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading