Awas! "Duet Maut" Ini Bisa Bikin Rupiah Babak Belur

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 June 2022 07:00
Ilustrasi Rupiah dan Dollar di teller Bank Mandiri, Jakarta, Senin (07/5). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Rupiah melemah 0,32 % dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Harga jual dolar AS di  bank Mandiri Rp. 14.043. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah melemah 0,24% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.835/US$ pada perdagangan Selasa kemarin setelah menguat cukup tajam hari sebelumnya. Pergerakan tersebut mengindikasikan besarnya ketidakpastian yang mempengaruhi outlook kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). 

Pada perdagangan Rabu (29/6/2022), rupiah berisiko kembali melemah melihat sentimen pelaku pasar yang memburuk. Hal ini terlihat dari ambrolnya bursa saham AS (Wall Street) pada perdagangan Selasa waktu setempat. Indeks Dow Jones turun 1,6%, S&P 500 2% dan Nasdaq jeblok nyaris 3%. 

Saat aset-aset berisiko jeblok, indeks dolar AS kembali menanjak. Kemarin, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini melesat 0,55%, setelah menurun dalam dua hari beruntun.


Sentimen pelaku pasar yang memburuk serta penguatan indeks dolar AS menjadi "duet maut" yang bisa membuat rupiah terpuruk. 

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR sejak 15 Juni lalu menembus ke atas resisten kuat di kisaran Rp 14.730/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 61,8%. Sejak saat itu, rupiah terus mengalami tekanan.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Rupiah sampai saat ini masih berada di atas Rp 14.730/US$, yang memberikan tekanan semakin besar.

Resisten terdekat berada di kisaran Rp 14.840/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah ke Rp 14.860/US$ hingga 14.880/US$. Resisten selanjutnya berada di Rp 14.900/US$

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian kini bergerak naik dan mencapai wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

idrGrafik: Rupiah 1 Jam
Foto: Refinitiv 

Stochastic yang berada di wilayah jenuh beli memberikan peluang penguatan rupiah. Apalagi, stochastic pada grafik 1 jam yang digunakan untuk memproyeksikan pergerakan harian sudah berada di dekat wilayah jenuh beli, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi lebih besar.

Rupiah saat ini masih tertahan support, di kisaran Rp 14.800/US$, jika ditembus, ada peluang ke Rp 14.780/US$ - Rp 14.770/US$. Rp 14.730/US$ kini menjadi support kuat yang bisa menahan penguatan rupiah.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS Sedang Garang, Rupiah Mampu Menguat Tipis Pekan Ini!


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading