Waduh, Harga Batu Bara Ambles Nyaris 3%!

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
28 June 2022 07:44
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai pada awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (27/6/2022), harga batu bara kontrak Juli di pasar internasional ditutup di posisi US$ 375,9. Harga batu bara melemah 2,87%.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung sejak Jumat pekan lalu, di mana harga batu bara melandai 2,5% setelah terbang di hampir sepanjang pekan.

Dalam sepekan, harga batu bara merosot 1,7% secara point to point. Namun, dalam sebulan harga batu hitam masih menguat 1,5% sementara dalam setahun melesat 204,9%.


Pelemahan harga batu bara disebabkan aksi profit taking setelah harganya terbang 7,9% pada pekan lalu. Dilansir dari Montel News, pasar tengah 'mengambil nafas' sebentar setelah harga batu bara terus menerus naik sejak pertengahan bulan ini.

"Saya tidak menganggap pelemahan ini didasari faktor fundamental. Jika persoalan gas belum juga ada solusinya maka batu bara tetap dibutuhkan dan harganya bisa naik," tutur seorang trader kepada Montel News.

Trader lain juga mengatakan pelemahan ini hanya sementara. Harga batu bara diperkirakan akan kembali merangkak naik ke depan karena permintaan masih sangat tinggi.

"Pelemahan ini hanya karena profit taking. Harga masih bisa naik," tuturnya.

Pelemahan juga disebabkan masih landainya permintaan dari China. Kondisi ini disebabkan pasokan batu bara Negara Tirai Bambu masih dalam kondisi aman. Di beberapa pelabuhan China terutama bagian utara, pasokan batu bara terus naik.

Ke depan, permintaan dari Negara Tirai Bambu diperkirakan akan meningkat karena musim panas segera datang. "Penggunaan batu bara di sejumlah pembangkit listrik mulai naik karena meningkatnya suhu udara. Kami harus membeli banyak batu bara sebagai persiapan," tutur trader di Jiangsu seperti dilansir Coalmint.

Penggunaan listrik batu bara di sejumlah kota diperkirakan akan meningkat sejalan kenaikan suhu. Penggunaan listrik di Shanghai, misalnya, diperkirakan akan naik hingga 35 Giga Watt (GW) pada periode Juli-Agustus, naik 4.38% dibandingkan musim panas lalu.

Pasokan batu bara di Qinhuangdao meningkat 6% dari pekan sebelumnya dan 19,1% dibandingkan bulan lalu. Pelabuhan Jingtang dan Caoefeidian juga melaporkan adanya peningkatan pasokan. Pasokan di pelabuhan selatan China seperti di sepanjang Sungai Yangtze juga meningkat ke level tertinggi sepanjang tahun ini.

Selain melemahnya permintaan, kenaikan pasokan dipicu oleh upaya produsen meningkatkan produksi batu bara untuk persiapan musim panas. 
Produksi batu bara di China mencapai 1,81 miliar pada periode Januari-Mei 2022, naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan pasokan batu bara juga ditopang oleh meningkatnya pengiriman lewat jalur kereta api. Jalur kereta api Daqin sudah menyelesaikan perbaikan pada 20 Mei lalu sehingga pengiriman rata-rata naik 1,28 juta dari sebelumnya 1 juta ton.

Di luar meningkatnya permintaan dari China di musim panas, harga batu bara juga diperkirakan masih merangkak naik ke depan karena permintaan dari Eropa.
Negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Austria, dan Belanda memutuskan untuk kembali menggunakan pembangkit listrik batu bara mereka sehingga permintaan batu bara masih tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waduh, Harga Batu Bara Anjlok 6% Lebih!


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading