Beda Sendiri, IHSG Merah Saat Bursa Asia Berhasil Hijau

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
27 June 2022 15:43
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin (27/6/2022) awal pekan ini, di tengah bayang-bayang sinyal negatif terkait kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yang bisa memicu resesi.

Indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut ditutup melemah 0,38% ke posisi 7.016,055 Meski melemah, tetapi IHSG masih mampu bertahan di zona psikologis 7.000.

Pada awal perdagangan sesi I, IHSG sempat dibuka menghijau dan menyentuh zona tertinggi intraday-nya di 7.070,519. Namun selang beberapa menit setelah dibuka, IHSG langsung berbalik arah ke zona merah hingga penutupan perdagangan hari ini.


Namun pada perdagangan sesi II hari ini, pelemahan IHSG berhasil terpangkas, meski pada akhir perdagangan hari ini IHSG tak mampu berakhir di zona hijau.

Nilai transaksi indeks pada hari ini mencapai sekitaran Rp 12 triliun dengan melibatkan 21 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali. Sebanyak 249 saham menguat, 262 saham melemah, dan 173 saham stagnan.

Setelah sebelumnya data kode broker ditutup, hari ini merupakan hari perdana perdagangan 'gelap gulita' di pasar modal Tanah Air, di mana status investor domestik dan asing juga ditutup selama jam perdagangan berlangsung dan baru akan dibuka setelah pasar tutup.

Dengan diimplementasikannya penutupan kode domisili investor ini, maka pelaku pasar dan investor tidak dapat melihat kode domisili asing atau domestik secara real time melalui layar aplikasi on-line trading.

Adapun dari nilai transaksi yang terbesar pada perdagangan hari ini dibukukan oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 654,4 miliar, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp 590,7 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 576,3 miliar.

Sayangnya, IHSG terkoreksi di saat bursa Asia-Pasifik sedang menghijau pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang melonjak 1,43%, Hang Seng Hong Kong melejit 2,35%, Shanghai Composite China melesat 0,88%, Straits Times Singapura terapresiasi 0,81%, ASX 200 Australia melompat 1,94%, dan KOSPI Korea Selatan melaju 1,49%.

Bahkan, koreksi IHSG pada hari ini terjadi saat bursa AS, Wall Street kembali cerah pada perdagangan akhir pekan lalu. Pada Jumat lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 2,68%, S&P 500 melompat 3,06%, dan Nasdaq melejit 3,34%.

Di lain sisi, meski pelaku pasar global cenderung optimis pada hari ini, tetapi tak sedikit yang masih khawatir bahwa ekonomi saat ini akan terus membebani pasar.

Tingkat inflasi yang tinggi masih menjadi risiko terbesar atas aset keuangan. Hal ini yang menyebabkan investor sejatinya masih cenderung pesimis untuk terus berada di pasar saham.

Ditambah lagi adanya sentimen negatif dari risiko akibat berlanjutnya tensi geopolitik Rusia-Ukraina serta kebijakan proteksionisme yang memicu krisis pangan global serta agresivitas pengetatan moneter global.

Di sisi lain, pembacaan sentimen konsumen yang diikuti oleh pernyataan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang menunjukkan sedikit pelonggaran ekspektasi inflasi.

Menurut survei dari University of Michigan, sentimen konsumen mencapai rekor terendah 50 pada periode Juni 2022. Sementara di permukaan yang tidak positif untuk pasar, investor menyukai angka di dalam laporan yang menunjukkan ekspektasi inflasi 12 bulan oleh konsumen turun kembali ke 5,3%.

Pembacaan sentimen konsumen bisa menjadi sangat penting bagi investor, karena Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan bahwa penurunan mengejutkan dalam pembacaan awal adalah salah satu alasan bank sentral menaikkan suku bunga acuannya sebesar tiga perempat poin persentase pada awal bulan ini.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari likuiditas perekonomian atau uang beredar (M2) pada Mei 2022 tetap tumbuh positif. Posisi M2 pada Mei 2022 tercatat sebesar Rp 7.854,8 triliun atau tumbuh 12,1% (year-on-year/yoy), tetap kuat dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2022 yang tercatat sebesar 13,6% (yoy).

Kenaikan posisi uang tersebut berarti likuiditas masih aman di sektor riil. Tetapi sepertinya, sentimen positif ini belum mampu mengangkat IHSG pada perdagangan awal pekan ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Empat Hari Beruntun Pecah Rekor, IHSG Lanjut Naik Gak Nih?


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading