Dunia Gonjang-ganjing, Apa Krisis Keuangan Bisa Terjadi Lagi?

Market - Redaksi, CNBC Indonesia
21 June 2022 10:20
Menengok Kondisi Perbankan

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kini gonjang ganjing akibat sederet permasalahan. Pandemi covid-19 yang belum usai, ditambah perang Rusia dan Ukraina hingga agresivitas Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dalam menaikkan suku bunga acuan.

Pada Kamis pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 1,5% - 1,75%. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak tahun 1994. Kenaikan suku bunga yang agresif hampir pasti akan terjadi sebab inflasi di AS terus menanjak.


"Kami menyerang inflasi dan akan melakukan semua yang bisa kami lakukan untuk membawanya kembali ke level normal, untuk kami itu di angka 2%. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mewujudkannya," kata Presiden The Fed wilayah Atlanta, Raphael Bostic, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (17/6/2022).

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di AS saat ini mencapai 8,6% year-on-year (yoy), tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

Berdasarkan Fed Dot Plot yang dirilis setiap akhir kuartal, mayoritas anggota komite pembuat kebijakan moneter (FOMC) The Fed melihat suku bunga di akhir tahun berada di 3,4% atau di rentang 3,25% - 3,5%.

Artinya, di akhir tahun suku bunga tersebut akan lebih tinggi dari level yang dianggap netral 2,5% - 2,75%. Suku bunga netral artinya tidak memacu perekonomian, tidak juga memicu pelambatan ekonomi.

Semakin jauh suku bunga di atas netral, risiko pelambatan ekonomi hingga resesi menjadi semakin meningkat.

Apalagi, sinyal Amerika Serikat akan kembali mengalami resesi sudah muncul dari inversi imbal hasil (yield) obligasi AS (Treasury).

Inversi tersebut terjadi setelah yield Treasury tenor 2 tahun lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun, meski hanya berlangsung sesaat. Dalam kondisi normal, yield tenor lebih panjang akan lebih tinggi, ketika inversi terjadi posisinya terbalik.

Sebelumnya inversi juga terjadi di bulan April lalu, dan menjadi sinyal kuat akan terjadinya resesi di Amerika Serikat.

Berdasarkan riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018 lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu resesi (false signal).

Setelah rilis riset tersebut, inversi yield terjadi lagi di Amerika Serikat pada 2019 lalu yang diikuti dengan terjadinya resesi, meski juga dipengaruhi oleh pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19).

Sementara itu bank investasi JP Morgan mengatakan probabilitas Amerika Serikat mengalami resesi saat ini mencapai 85%, berdasarkan pergerakan harga di pasar saham.

Indeks S&P 500 sepanjang tahun ini sudah jeblok sekitar 23%. Menurut JP Morgan, dalam 11 resesi terakhir, rata-rata indeks S&P 500 mengalami kemerosotan sebesar 26%.

Krisis Keuangan Terulang Lagi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan krisis keuangan akan melanda beberapa negara dalam waktu dekat. Indonesia sendiri ternyata sudah bersiap sejak dini lewat berbagai kebijakan.

"Sejarah menunjukkan, ketika suku bunga naik dan ada pengetatan likuiditas maka bisa berpotensi menciptakan krisis keuangan," ujarnya dalam wawancara bersama Channel News Asia beberapa waktu lalu.

Hal ini terbukti ketika 1980, ketika AS menaikkan suku bunga acuan sampai dengan 20%, maka Brasil, Argentina dan Meksiko alami krisis keuangan. Hal yang sama juga terjadi lagi ketika tahun 1990 di mana suku bunga AS naik menjadi 9,75%. Periode 2007 juga menjadi salah satu contoh.

Kemenkeu.Foto: Kemenkeu.
Kemenkeu.

Situasi sekarang, kata Sri Mulyani memang sangat berat. Pandemi covid-19 yang belum selesai disambung oleh perang Rusia dan Ukraina. Banyak negara kini harus menghadapi lonjakan harga energi dan pangan sehingga membuat inflasi meroket.

Negara dengan ruang fiskal yang sempit akan alami tekanan berat. Menambah utang maka konsekuensinya adalah biaya yang dikeluarkan sangat mahal. Namun membebani masyarakat dengan kenaikan harga risikonya adalah lonjakan inflasi dan harus direspons dengan pengetatan moneter. Akhirnya krisis menjadi tak terhindarkan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ekonomi AS Kuartal I-2022 Babak Belur, Apa Dampaknya ke RI?


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading