Bursa Asia Dibuka Cenderung Beragam, Shanghai 'Galau'

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
15 June 2022 08:52
A man wearing a face mask looks back as workers installing the nameplate of the Beijing Stock Exchange on the Financial Street in Beijing, Sunday, Nov. 14, 2021. According the local news report, the Beijing Stock Exchange will start trading on Monday, Nov. 15. (AP Photo/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung beragam pada perdagangan Rabu (15/6/2022), di mana investor masih cenderung wait and see jelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS).

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,16%, ASX 200 Australia terkoreksi 0,13%, dan KOSPI Korea Selatan yang juga turun tipis 0,01%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China dibuka turun tipis 0,06 indeks poin (-0,00%). Tetapi selang beberapa menit setelah dibuka, Shanghai langsung menguat 0,57%.


Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,44% dan Straits Times Singapura terapresiasi 0,55%.

Investor di Asia-Pasifik akan memantau rilis sejumlah data ekonomi China pada periode Mei 2022. Adapun data ekonomi China yang dirilis pada hari ini yakni data produksi industri, penjualan ritel, dan tingkat pengangguran.

Bursa Asia-Pasifik yang kembali dibuka terkoreksi terjadi di tengah masih melemahnya sebagian besar indeks utama di bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu setempat.

Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,5% ke posisi 30.364,83 dan S&P 500 terkoreksi 0,38% ke 3.735,48. Tetapi indeks Nasdaq pada penutupan perdagangan kemarin berhasil menguat 0,18% ke posisi 10.828,34.

"Ini merupakan salah satu hari di mana pasar harus mengambil sikap menunggu dan melihat, dan tentu saja itulah yang tampaknya terjadi di indeks utama. Kami benar-benar terjebak di jalan tengah," tutur Kepala Strategi Pasar di National Securities Art Hogan dikutip CNBC International.

Saham-saham mencapai posisi terendah selama sesi terakhir perdagangan. Indeks Dow Jones menyentuh titik terendah harian karena sempat turun 370 poin. Sedangkan indeks S&P 500 berada 22% dari rekor tertingginya.

Pergerakan pada pasar ekuitas terjadi karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) melonjak lagi untuk mengantisipasi kebijakan pengetatan yang lebih agresif dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Yield Treasury tenor 10 tahun mencapai 3,48% kemarin dan mencapai rekor tertinggi selama 11 tahun, sedangkan yield Treasury tenor 2 tahun menjadi 3,43%.

"Jika yield Treasiry tidak berhenti naik, maka pasar saham belum selesai turun," kata Kepala Perencana Investasi Leuthold Group Jim Paulsen.

Sektor teknologi reli dipimpin oleh saham, Tesla, Microsoft, dan Nvidia. Beberapa pekan terakhir, sektor teknologi telah terpukul karena investor beralih ke sektor safe-haven seperti kebutuhan primer konsumen, menyebabkan Nasdaq jatuh lebih dari 30% dari level tertingginya.

Investor melihat peluang sebanyak 90% terhadap kenaikan sebanyak 75 basis poin (bp) pada pertemuan The Fed yang berlangsung dua hari hingga besok, jika mengacu pada CME FedWatch.

Indeks S&P 500 mengalami aksi jual yang intens dan jatuh 3,9% ke titik terendah sejak Maret 2021 dan berakhir ke bear market untuk pertama kalinya sejak 2020 pada Senin lalu.

Menurut data indeks Dow Jones dan S&P, selama pasar bearish terakhir, indeks S&P 500 kehilangan 33,9% sebelum pulih. Data juga menunjukkan bahwa bear market rata-rata bertahan lebih dari 18 bulan.

Investor di Wall Street masih mengevaluasi dari rilis data inflasi dari sisi produsen (producer price index/PPI) per Mei lalu yang naik ke 10,8% dan berada dekat dengan rekor tertingginya.

Hal tersebut ikut mengkonfirmasi potensi resiko bahwa inflasi pada inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) yang juga akan melesat dalam beberapa bulan ke depan. Sebab, produsen kemungkinan besar akan menaikkan harga jual produknya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sinyal Baik untuk IHSG, Bursa Asia Pagi Ini di Zona Hijau


(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading