Investor Panik! Ternyata Ini yang Bikin IHSG Anjlok Parah

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
13 June 2022 11:06
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan koreksi 1,33% di level 6.992.23, Senin (13/6/2022). Bahkan, IHSG sempat melemah lebih dari 2% sepanjang perdagangan sesi pertama hari ini. 

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan koreksi disebabkan oleh inflasi Amerika Serikat (AS) dan jelang pertemuan The Fed.

"Beberapa penyebab koreksi hari ini disebabkan beberapa hal seperti, kenaikan tingkat suku bunga The Fed, kenaikan US Treasury, dan potensi resesi," jelas Nico kepada CNBC Indonesia, Senin (13/6/2022).


Adapun Nico memprediksi hal ini akan reda pada Jumat, setelah bank sentral AS the Fed akan mengumumkan kebijakan moneternya pada 15 Juni waktu setempat. 

"Kemungkinan reda pada Jumat karena pertemuan The Fed akan menjadi perhatian banyak orang," ungkap Nico.

Analis NH Korindo Sekuritas, Dimas Wahyu menilai, sentimen datang dari AS. Inflasi AS kembali meningkat 8,6% pada bulan Mei dan di atas ekspektasi (diperkirakan pada Maret kemarin 8,5% sudah peak-nya), membuat The Fed akan agresif dan bersikap hawkish, dengan menaikkan Fed Rate pada 15-16 Juni mendatang.

"FOMC mendatang diperkirakan Fed Rate naik 50 bps ini juga membuat tekanan dalam di bursa Amerika," jelas Dimas.

Dimas juga mengatakan kalau untuk IHSG sendiri di awal opening terjadi panic selling, dan saat ini sedang berada di area konsolidasi.

"Diharapkan penutupan bisa kembali closing di atas 7.000, ini jadi kesempatan akumulasi saham-saham big cap yang turun, salah satunya banking," pungkas Dimas.

Pasar saham AS mencatatkan koreksi tajam pekan lalu. Secara point-to-point pada pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah 4,58%, S&P 500 ambruk 5,05%, dan Nasdaq Composite anjlok 5,60%.

Pada perdagangan Jumat (10/6) pekan lalu, ketiga indeks utama berakhir terkoreksi signifikan, di mana Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P 500, dan Nasdaq Composite ambles masing-masing 2,73%, 2,91%, dan 3,53%.

Tekanan jual terjadi akibat rilis data inflasi terbaru. Pada Mei 2022, inflasi Negeri Paman Sam tercatat 8,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tertinggi sejak 1981.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mengekor Bursa Global, Bursa Eropa Dibuka Ceria!


(vap/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading