Akhir Pekan Buruk di Asia, Bursanya Merah Semua

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
10 June 2022 17:36
Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (10/6/2022), di mana investor cenderung wait and see jelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada malam hari ini waktu Indonesia.

Hanya indeks Shanghai Composite China yang ditutup di zona hijau bahkan melesat pada hari ini, yakni melesat 1,42% ke posisi 3.284,83.

Sementara sisanya kembali ditutup di zona merah. Indeks Nikkei Jepang ditutup ambruk 1,49% ke posisi 27.824,289, Hang Seng Hong Kong melemah 0,29% ke 21.806,18, ASX 200 Australia ambles 1,25% ke 6.932.


Berikutnya Straits Times Singapura merosot 0,87% ke posisi 3.181,73, KOSPI Korea Selatan ambrol 1,13% ke 2.595,87, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tergelincir 1,34% ke 7.086,648.

Dari China, inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada periode Mei 2022 tercatat beragam, di mana secara tahunan (year-on-year/yoy), IHK Negeri Panda pada bulan lalu cenderung stabil di 2,1%. Sedangkan secara bulanan (month-on-month/mom), IHK China turun menjadi -0,2%.

Sedangkan dari inflasi sisi produsen (producer price index/PPI) China pada bulan lalu juga cenderung mendingin tertekan oleh melemahnya permintaan komoditas industri utama termasuk nikel akibat karantina wilayah (lockdown).

PPI China bulan lalu naik 6,4% (yoy), berdasarkan rilis Biro Statistik Nasional (NBS). Nilai tersebut lebih lambat dibanding April lalu di 8% (yoy).

China sendiri adalah konsumen nikel terbesar di dunia. Menurut Statista, konsumsi China mencapai 1,31 juta ton. Sehingga permintaan dari China memiliki pengaruh terhadap laju harga nikel.

Masih dari China, sentimen negatif datang di mana pemerintah China kembali memperketat lockdown di sebagian kota Shanghai. Distrik Minhang di Shanghai kembali 'dikunci' karena kenaikan kasus positif harian Covid-19. Warga Minhang diminta untuk #dirumahaja selama dua hari untuk mencegah risiko penularan.

Padahal pada 1 Juni lalu, pemerintah China telah melonggarkan lockdown di sejumlah wilayah, termasuk di Shanghai.

Lockdown tersebut tentunya berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi China lagi, yang akan berdampak ke perekonomian global. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan investor kurang bergairah untuk memburu saham dan berimbas ke koreksinya sebagian besar bursa Asia-Pasifik.

Selain dari China, investor masih menanti rilis data inflasi AS pada periode Mei 2022, yang akan dirilis pada malam ini waktu Indonesia.

Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi AS bulan lalu berada di 8,3% (yoy), tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi masih bertahan di level yang sangat tinggi.

Jika inflasi masih tinggi, maka hampir pasti bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) makin yakin untuk menaikkan suku bunga acuan secara agresif.

Mengutip CME FedWatch, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan Federal Funds Rate sebesar 50 basis poin (bp) ke 1,25-1,5% dalam rapat bulan ini. Peluang ke arah sana mencapai 94,9%.

Kenaikan suku bunga acuan akan menjadi sentimen negatif di pasar saham. Suku bunga tinggi akan membuat biaya ekspansi emiten menjadi lebih mahal sehingga laba akan tergerus.

Selain memantau inflasi di AS, investor juga menimbang dari hasil rapat bank sentral Uni Eropa (European Central Bank/ECB). Bank sentral Benua Biru tersebut tetap mempertahankan suku bunga acuan deposit rate -0,5%. Suku bunga acuan berada di teritori negatif sejak 2014.

Namun, nada hawkish sangat kentara dalam rapat kali ini. Program pembelian aset alias quantitative easing (QE) akan berakhir pada 1 Juli, dan dalam rapat 21 Juli mulai menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bp.

"Dewan berencana kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 25 bp dalam Juli. Dewan juga memperkirakan ada kenaikan lagi pada September. Jika inflasi diperkirakan masih tinggi, maka kenaikan suku bunga acuan yang lebih tinggi pada September menjadi layak," sebut keterangan tertulis ECB.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Bangkit Mengekor Wall Street, Kecuali Shanghai


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading