Harga CPO Naik Tipis, Tapi Petani RI Masih Rugi!

Market - aaf, CNBC Indonesia
08 June 2022 10:03
Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Candali Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Candali Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) naik tipis di sesi pembukaan perdagangan pada hari ini, Rabu (8/6/2022), setelah harga CPO ditutup melesat kemarin dan menjadi rekor tertinggi penutupan sejak 26 Mei. Apa penyebabnya?

Mengacu pada data kepada Refinitiv, pukul 08:10 WIB harga CPO di banderol di level MYR 6.509/ton atau naik tipis 0,06%.

Di sepanjang pekan ini, harga CPO mengindikasikan tren naik dan telah melesat 2,41%.

Secara teknis, Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memproyeksikan harga CPO hari ini akan netral di kisaran MYR 6.423-6.577/ton dan pelarian dapat menunjukkan arah selanjutnya.

Penembusan di bawah MYR6.423ton akan mengerek harga CPO turun ke MYR 6.233/ton. Namun, penembusan di atas MYR 6.577/ton, akan mendorong harga CPO naik ke kisaran MYR 6.731-6.921/ton.

CPO 8 MeiSumber: Refinitiv

Minyak sawit berjangka Malaysia berakhir melesat 1,04% pada Selasa (7/6) ke MYR 6.505/ton (US$1.484,01/ton) dan menjadi penutupan tertinggi dalam dua pekan.

Menurut Direktur Pelindung Bestari Selangor Paramalingam Supramaniam bahwa harga CPO kemarin ditopang oleh kekhawatiran atas persediaan di Mei yang lebih rendah dan para pedagang masih menunggu rincian tentang penyesuaian pungutan ekspor CPO Indonesia.

Dia juga menambahkan bahwa harga minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai dan minyak mentah juga diperdagangkan lebih tinggi, sehingga mendukung harga CPO juga naik. 

Pekan lalu, poling Reuters yang diambil dari 11 produsen di Malaysia, telah memprediksikan bahwa persediaan minyak sawit Malaysia pada akhir Mei turun 6% dari bulan sebelumnya menjadi 1,54 juta ton dan menjadi penurunan untuk bulan keenam karena terhimpit oleh penurunan produksi dan melonjaknya ekspor dari Malaysia.

Ekspor melonjak 20% menjadi 1,27 juta ton dan menjadi rekor tertinggi dalam lima bulan karena larangan ekspor CPO Indonesia mendorong Malaysia untuk meningkatkan ekspornya untuk mengisi kekosongan persediaan di pasar minyak nabati global.

Selain itu, krisis tenaga kerja asing di Malaysia menambah kekhawatiran. Pasalnya, Malaysia kekurangan sebanyak 120.000 pekerja dan mengancam penurunan produksinya.

Setelah Bursa Malaysia Exchange ditutup kemarin, Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi mengumumkan kebijakan mengenai pungutan ekspor. Dia mengatakan bahwa pemerintah akan menurunkan gabungan maksimum ekspor minyak sawit mentah dan tarif retribusi menjadi US$488/ton dari US$575/ton untuk mendorong pengiriman.

Namun, belum ada rincian kapan biaya terbaru akan diberlakukan.

Meski Indonesia telah membuka kembali ekspor CPO, tapi dengan birokrasi yang lambat membuat tangki penyimpanan kelapa sawit di pabrik-pabrik tetap penuh. Sehingga, petani mengeluhkan harga buah sawit yang masih rendah karena pabrik membatasi pembeliannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Sawit, Harga CPO Naik Nih! Siap-Siap Permintaan Juga Naik


(aaf/aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading