Bursa Asia Sedang Galau, IHSG Berakhir Terkoreksi Hari Ini

Market - Putra, CNBC Indonesia
25 May 2022 15:38
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (25/5/2022) dengan koreksi 0,44% dan ditutup di level 6.883,5.

IHSG kembali terlempar dari level psikologis 6.900. IHSG sempat menguat di awal perdagangan. Namun setelah itu IHSG cenderung tertekan. Di sesi II, IHSG tetap berada di zona koreksi.

Asing net buy Rp 40,54 miliar di pasar reguler. Saham BBNI dan UNVR menjadi yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp 137 miliar dan Rp 55 miliar.


Sedangkan saham BBRI dan BUMI menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan net sell masing-masing Rp 165 miliar dan Rp 34 miliar.

Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan hari ini. Indeks Hang Seng dan Shanghai Composite sukses selamat dari koreksi dengan kenaikan 0,29% dan 1,19%.

Indeks utama Wall Street sebagian besar berakhir lebih rendah dengan aksi jual di saham teknologi semakin parah akibat kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga terus membebani pasar.

S&P 500 turun 32,27 poin atau 0,81%, Nasdaq Composite yang dipenuhi saham teknologi turun 270,83 poin atau 2,35%. Sementara itu Dow Jones Industrial Average mampu menguat tipis di menit-menit terakhir bel penutupan perdagangan, naik 48,38 poin atau 0,15%.

Ketiga indeks tersebut sempat jatuh lebih dalam ke zona merah di awal perdagangan karena laporan suram tentang penjualan rumah dan pandangan perusahaan yang kurang menjanjikan memperbesar kekhawatiran investor.

Aksi jual pada hari Selasa di saham teknologi mendorong investor untuk mengoleksi obligasi pemerintah, dengan imbal hasil pada catatan Treasury AS 10-tahun turun menjadi 2,758% dari 2,857% pada hari Senin. Imbal hasil obligasi akan turun ketika harganya naik.

Selanjutnya investor juga patut menyimak dampak kebijakan Bank Indonesia (BI) yang kembali mengerek Giro Wajib Minimum (GWM), khususnya terhadap sektor perbankan.

Sebelumnya di awal tahun ini, BI berencana mengerek GWM pada Maret (100 basis poin), Juni (100 basis poin) dan September (50 basis poin), untuk bank umum konvensional (BUK) menjadi 6,5%

Dan untuk bank umum syariah (BUS) di September GWM menjadi 5%, dengan kenaikan masing-masing 50 basis poin.

Kemarin, BI mempercepat dan menaikkan lagi GWM tersebut. Untuk BUK, GWM yang saat ini 5% akan naik menjadi 6% di bulan Juni, kemudian 7,5% di bulan Juli dan 9% di bulan September.

Untuk BUS yang saat ini 4% naik menjadi 4,5% di Juni, 6% di Juli dan 7,5% di September.

Investor juga perlu menyimak kondisi terbaru serta implikasi yang terjadi akibat konflik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina.

Dalam World Economic Forum Annual Meeting yang tengah berlangsung - diselenggarakan pada 22-26 Mei - Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kemarin mengatakan kepada CNBC Internasional bahwa dia berharap kesepakatan untuk memberikan sanksi kepada minyak Rusia akan tercapai dalam beberapa hari mendatang.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pagi yang Cerah! IHSG Dibuka Hijau, Bertahan di Atas 7.000


(trp/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading