Jaga Rupiah, BI Agresif Naikkan GWM! Dolar Australia Turun?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 May 2022 13:35
Ilustrasi dolar Australia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengumumkan kebijakan moneter Selasa kemarin yang membuat rupiah lebih bertenaga pada perdagangan Rabu (25/5/2022). Kurs dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura turun cukup tajam di awal perdagangan hari ini, tetapi dolar Australia masih cukup stabil.

Pada pukul 12:03 WIB, dolar Australia diperdagangkan di kisaran Rp 10.406/AU$, turun tipis 0,02% saja di pasar spot, melansir data Refinitiv.

BI kemarin mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG). Hasilnya sesuai ekspektasi, suku bunga acuan masih belum diutak-atik.


"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada23-24April 2022memutuskan untuk mempertahankan BI7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," sebut Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers secara virtual.

Dengan demikian, BI 7 Day Reverse Repo Rate tidak pernah berubah selama 15 bulan. Suku bunga acuan 3,5% adalah yang terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Namun, BI juga mengambil langkah-langkah guna menjaga stabilitas rupiah dengan mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan GWM secara bertahap.

Sebelumnya di awal tahun ini, BI berencana mengerek GWM Pada Maret (100 basis poin), Juni (100 basis poin) dan September (50 basis poin), untuk bank umum konvensional (BUK) menjadi 6,5%

Dan untuk bank umum syariah (BUS) di September GWM menjadi 5%, dengan kenaikan masing-masing 50 basis poin.

Pada hari ini, BI mempercepat dan menaikkan lagi GWM tersebut. Untuk BUK, GWM yang saat ini 5% akan naik menjadi 6% di bulan Juni, kemudian 7,5% di bulan Juli dan 9% di bulan September.

Untuk BUS yang saat ini 4% naik menjadi 4,5% di Juni, 6% di Juli dan 7,5% di September.

Kenaikan tersebut diperkirakan akan menyerap likuiditas di perekonomian sebesar Rp 110 triliun. Tetapi tidak akan mengurangi kemampuan perbankan menyalurkan kredit sebab likuiditas dikatakan masih sangat longgar.

Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) saat ini berada di kisaran 29% dan akan turun turun menjadi 28% dengan kenaikan GWM. Tetapi AL/DPK tersebut masih jauh lebih tinggi dari sebelum pandemi Covid-19 melanda di kisaran 21%.

Penyerapan likuiditas tersebut diharapkan mampu membuat rupiah lebih stabil.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jeblok! Kurs Dolar Australia Nyaris Tembus Rp 10.100/AU$


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading