Rubel Rusia Jadi Mata Uang Terbaik Dunia, Dolar AS-Real Keok!

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
20 May 2022 08:05
A view shows a Russian one rouble coin in this picture illustration taken October 26, 2018. Picture taken October 26, 2018. REUTERS/Maxim Shemetov

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupee dan Rupiah masuk dalam 10 daftar mata uang terendah di dunia. Di sisi lain ada negara yang mata uangnya terbaik di dunia bahkan bisa mengalahkan Dolar Amerika Serikat (AS) dan juga Real.

Mata uang rubel Rusia sempat terpuruk hingga ke rekor terlemah sepanjang masa melawan dolar Amerika Serikat (AS) di tahun ini. Namun tidak berlangsung lama, rubel mampu bangkit bahkan saat ini menjadi mata uang terbaik dunia, melewati real Brasil.

Perang Rusia dan Ukraina yang mulai terjadi sejak 24 Februari membuat rubel terpuruk. Rusia mendapat berbagai macam sanksi dari Amerika Serikat dan sekutunya, yang membuat perekonomian merosot, dan inflasi meroket.


Pada 7 Maret lalu, rubel menyentuh RUB 150/US$, yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah.

Namun sejak saat itu rubel perlahan bangkit hingga Kamis (19/5/2022) berada di kisaran RUB 61,75/US$, dan mencatat penguatan 14,4% sepanjang tahun ini. Rubel melewati real Brasil yang sebelumnya terus menjadi mata uang terbaik dunia, penguatannya saat ini sebesar 12,8%.

Di posisi ketiga ada peso Meksiko dengan penguatan 2,8%, peso Kolombia dan rand Afrika Selatan melengkapi 5 besar dengan penguatan 1% dan 0,6%, berdasarkan data Refinitiv.

Hingga Kamis kemarin, hanya 5 mata uang dari 36 mata uang yang dipantau Refinitiv yang mampu menguat melawan dolar AS. Sisanya mengalami pelamahan termasuk rupiah.

Sepanjang tahun ini, rupiah tercatat melemah 2,7% dan berada di urutan ke 12 klasemen. Jika dibandingkan dengan mata uang ASEAN, rupiah hanya kalah dari dolar Singapura yang berada satu strip di atasnya.

Kembali ke rubel, mata uang Rusia ini mampu membalikkan keadaan setelah bank sentral Rusia (Central Bank of Russia/CBR) mengerek suku bunga menjadi 20% dari sebelumnya 9,5% beberapa hari setelah perang pecah. Selain itu, pemerintah Rusia juga menerapkan kebijakan capital control yang pada akhirnya membuat rubel terus menguat.

Rubel yang terus menguat, dan ekspektasi inflasi yang melandai membuat CBR memangkas suku bunga hingga menjadi 14%, dan diprediksi akan dipangkas lagi menjadi 12%. Meski demikian, rubel masih terus menguat.

Kebijakan capital control memberikan dampak yang besar terhadap penguatan rubel. Kebijakan tersebut mewajibkan perusahaan Rusia mengkonversi 80% valuta asingnya menjadi rubel. Rusia juga meminta gas dan minyak yang diimpor oleh negara-negara Eropa dibayar menggunakan rubel.

Selain itu, warga Rusia sebelumnya juga dilarang mengirim uang ke luar negeri, kebijakan tersebut kemudian dilonggarkan dengan memperbolehkan transfer maksimal US$ 10.000/bulan per individu.

Analis Goldman Sachs melihat, perekonomian Rusia mulai pulih dan stabilitas finansial mulai membaik yang membuat rubel menguat.

"Perekonomian Rusia terus menunjukkan pemulihan dari syok pada akhir Februari dan awal Maret. Kecemasan akan stabilitas finansial mulai mereda, dan rubel mampu menguat ke level awal 2020," tulis ekonom Goldman Sachs Clemens Grafe yang dikutip CNBC International, Rabu (18/5/2022).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasar Finansial Rusia Alami "Malapetaka", Bitcoin Cs Nyusul?


(vap/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading