Wall Street Ambruk, Bursa Asia Kebakaran... IHSG Ngeri Nih

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 May 2022 08:53
An electronic board shows Hong Kong share index outside a local bank in Hong Kong, Wednesday, Jan. 16, 2019. Asian markets are mixed as poor Japanese data and worries about global growth put a damper on trading. (AP Photo/Vincent Yu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung berjatuhan pada perdagangan Kamis (19/5/2022), menyusul koreksinya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS) setelah sempat pulih dari zona koreksi.

Indeks Nikkei Jepang dibuka ambles 2,63%, Hang Seng Hong Kong ambruk 2,78%, Shanghai Composite China ambrol 1,29%, Straits Times Singapura merosot 1,06%, ASX 200 Australia melemah 0,78%, dan KOSPI Korea Selatan tergelincir 1,93%.

Dari Jepang, ekspor pada periode April 2022 tercatat kembali naik dua digit, ditopang oleh permintaan dari AS. Namun, kenaikan ekspor Negeri Sakura pada bulan lalu cenderung terpangkas.


Kementerian Keuangan Jepang melaporkan ekspor pada April 2022 naik 12,5% (year-on-year/yoy), lebih rendah dari kenaikan yang terjadi pada Maret lalu sebesar 14,7% dan lebih rendah dari ekspektasi pasar pada survei Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 13,8%.

Sementara itu, impor Jepang juga menguat meski penguatannya juga terpangkas, yakni sebesar 28,2% pada bulan lalu, dari kenaikan Maret lalu sebesar 31,2%. Melonjaknya biaya komoditas global turut meningkatkan tagihan impor Jepang, menambah kekhawatiran tentang kenaikan biaya hidup.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung terkoreksi parah pada hari ini terjadi setelah bursa AS, Wall Street berbalik arah ke zona koreksi setelah sempat pulih di tengah meningginya kekhawatiran mengenai inflasi dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Indeks Dow Jones ditutup ambruk 3,57% ke level 31.490,07, S&P 500 anjlok 4,04% ke 3.923,68, dan Nasdaq Composite longsor 4,73% ke posisi 11.418,15.

Koreksi terjadi menyusul kinerja buruk emiten Target dan Walmart, memicu kekhawatiran investor akan inflasi yang mengurangi laba perusahaan dan permintaan konsumen.

"Kami mulai melihat pada akhir tahun bahwa konsumen beralih ke kartu kredit untuk membayar kenaikan harga pangan, kenaikan harga energi, dan itu sebenarnya menjadi jauh lebih buruk. ... Ini akan merugikan tempat-tempat ritel terkemuka itu dan Walmart cenderung menjadi salah satunya," kata Megan Horneman, kepala investasi di Verdence Capital Advisors.

Saham Target anjlok 24% lebih setelah melaporkan laba bersih kuartal I-2022 yang lebih rendah dari estimasi pasar akibat kenaikan harga energi. Saham Walmart ikut turun 6,8%, setelah kemarinnya drop 11%.

Saham dan aset berisiko lainnya seperti kripto telah tertekan oleh inflasi dan upaya bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan secara agresif, yang meningkatkan potensi terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Ketua The Fed, Jerome Powell dalam konferensi Wall Street Journal (WSJ) menyatakan tidak akan ragu menaikkan suku bunga acuan hingga inflasi terkendali.

Di lain sisi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun-yang menjadi acuan di pasar-pun kembali menguat melewati level 3%.

Namun pada pukul 21:30 waktu AS atau pukul 08:30 WIB, yield Treasury tenor 10 tahun cenderung kembali melandai ke kisaran level 2,8%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading