Serius Deh, Sulit Sepertinya Hidup Tanpa Gojek

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
18 May 2022 08:40
Gojek. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa yang tak kenal dengan aplikasi Gojek yang sudah sangat sering digunakan oleh masyarakat Indonesia baik di kota-kota besar maupun kecil di seluruh pelosok nusantara.

Siapa sangka, perusahaan transportasi (ride hailing) yang tahun 2010 silam itu berawal dari model bisnis yang sangat sederhana kini telah menyandang status sebagai decacorn pertama dari Tanah Air yang kini telah berkembang menjadi super app dan tak hanya berbisnis ride hailing lagi.

Seperti yang diketahui bersama, decacorn merupakan status sebuah perusahaan jika valuasinya lebih dari US$ 10 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp 145 triliun.


Dahulu, untuk memesan ojek online, Gojek hanya menyediakan call center. Jadi bagi siapapun yang ingin menggunakan jasanya harus menelepon terlebih dahulu.

Namun Gojek terus berinovasi. Memanfaatkan momentum penetrasi internet yang semakin menjangkau ke berbagai pelosok negeri dan penggunaan ponsel cerdas di kalangan masyarakat membuat Gojek menghadirkan layanan dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh lewat gadget masing-masing.

Setelah lima tahun beroperasi, Gojek pun meluncurkan aplikasinya pada Januari 2015. Sejak diluncurkan 7 tahun silam aplikasi Gojek telah diunduh sebanyak lebih dari 190 juta kali. Laju pertumbuhan download-nya pun sangat fantastis terutama pada periode 2015-2020.

Tak sampai di situ, Gojek juga telah menyediakan lapangan pekerjaan yang fleksibel. Bayangkan saja dulu bukan apa-apa tapi hanya dalam kurun waktu kurang dari satu dekade Gojek kini telah memiliki lebih dari 2 juta mitra pengemudi.

Tahun 2021, Gojek merger dengan startup unicorn lain yaitu Tokopedia dan membentuk GoTo. Sebelum merger dengan Tokopedia, fokus bisnis Gojek di bidang on-demand dan fintech.

Kini di bidang transportasi, Gojek telah memiliki 5 layanan utama yaitu goride untuk ojek kendaraan roda dua, gocar untuk layanan taxi online, gosend layanan antar barang, gobox untuk membantu pengiriman dengan skala besar sampai bermitra dengan perusahaan transportasi terkemuka Blue Bird membentuk gobluebird.

Di bidang on demand, Gojek juga menyediakan layanan pesan antar makanan maupun belanja lewat 4 pilar bisnis utama gofood (makanan), gomart (belanja grosir), gomed (kesehatan) dan goshop.

Saking lengkapnya layanan yang ditawarkan oleh Gojek, kini perusahaan telah memiliki pengguna aktif mencapai hampir 30 juta setiap bulannya.

Gojek hadir dan telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan untuk masyarakat Indonesia. Dengan semangat sharing economy untuk mewujudkan perekonomian yang lebih inklusif, Gojek tidak hanya menyelesaikan masalah sehari-hari tetapi juga menjadi solusi bagi sektor ketenagakerjaan.

Harga yang terjangkau, moda transportasi yang beragam hingga sistem antar jemput yang point to point memang menjadi solusi praktis di tengah carut marut masalah transportasi di dalam negeri.

Mau ke mana saja Gojek siap hadir melayani. Keberadaan dan kebermanfaatan Gojek benar-benar terasa saat Indonesia dilanda Covid-19. Mobilitas publik dibatasi. Namun Gojek tetap ada untuk membantu masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhannya mulai dari belanja makanan hingga kebutuhan lain.

Bahkan saat pandemi, riset yang dilakukan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB menyebut Gojek memiliki protokol kesehatan yang paling lengkap dibanding negara lain, melansir dari detik.com.

Meski Gojek bukan satu-satunya perusahaan ride hailing yang ada di Indonesia, tetapi skala ketergantungan masyarakat Indonesia sudah tinggi.

Gojek menjawab setiap kebutuhan masyarakat Indonesia dengan segala kepraktisannya. Hal ini tentu semakin mengukuhkan posisinya sebagai market leader.

Kontribusi Gojek bukan main-main. Pada 2019 saja nilai tambah Gojek untuk ekonomi Indonesia mencapai US$ 7,1 miliar atau setara dengan hampir Rp 103 triliun. Nyaris 1% dari PDB Indonesia.

Ini sudah menjadi bukti Gojek tidak hanya hadir tetapi juga membantu perekonomian Indonesia untuk tumbuh bahkan cepat pulih meski diterpa badai krisis seperti pandemi Covid-19.

Dengan sudah terintegrasinya Gojek ke dalam masyarakat Indonesia tentu kini sulit bagi masyarakat apabila tidak menggunakan Gojek karena sudah menjadi kebiasaan dan minimnya opsi lain yang tersedia.

Sebagai contoh opsi lain dari GoRide praktis hanya Grab yang memang merupakan kompetitor utama Gojek di Indonesia. Memang terdapat opsi-opsi lain seperti Maxim yang secara harga memang jauh lebih murah dibandingkan dengan GoRide maupun Grab akan tetapi mitra pengemudi yang sedikit mempersulit pengguna untuk mencari pengemudi.

Selanjutnya opsi lain GoCar lagi-lagi selain Grab adalah Taksi, meskipun kini harga GoCar dan harga Taksi sudah bersaing.

Tarif GoCar tak semurah dahulu lagi saat masih disubsidi pihak Gojek dan bahkan pada jam-jam sibuk tarif GoCar akan menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan tarif taksi. Akan tetapi apabila Anda memesan taksi dan terkena macet maka bisa jadi tarif argometer menjadi di atas GoCar yang tarifnya flat rate.

Terakhir, dari layanan food delivery opsi-opsi lain selain Gofood dan Grabfood masih tertinggal jauh. Penyedia food delivery lain seperti Shopee Food dan Traveloka Food masih kurang diminati dengan platform, kecepatan pengantaran, dan promo yang masih kalah dibandingkan dengan kedua market leader.

Selain itu dibandingkan dengan Grab yang merupakan perusahaan asing, tentunya Gojek mempunyai tempat tersendiri dan preferensi khusus bagi masyarakat Indonesia karena produk lokal serta merupakan karya anak bangsa.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IPO Saham GoTo Dimulai, Tawarkan Harga Rp 316-346 Per Saham


(RCI/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading