Saham Gudang Garam Mulai Bangkit, Ada Apa?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
12 May 2022 14:20
Dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten produsen rokok yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mulai bangkit dari zona koreksinya pada hari ini, disaat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk lebih dari 2% pada perdagangan sesi I hari ini.

Pada penutupan perdagangan sesi I hari ini atau per pukul 11:30 WIB, saham GGRM menguat 0,58% ke level Rp 30.500/unit. Nilai transaksi saham GGRM pada perdagangan sesi I hari ini mencapai Rp 30,35 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 985,4 ribu lembar saham. Investor asing tercatat mengoleksi saham GGRM sebesar Rp 4,46 miliar di pasar reguler.

Bisa dikatakan bahwa saham GGRM pada hari ini mulai bangkit setelah sepanjang tahun ini mencatatkan koreksi 0,33%.


Bangkitnya saham GGRM terjadi saat perseroan mencatatkan penurunan laba bersih pada kuartal I-2022. Memang secara mayoritas, emiten produsen rokok di RI mencatatkan penurunan laba bersihnya pada tiga bulan pertama di tahun 2022.

Sebelumnya, perolehan laba bersih GGRM menurun drastis pada kuartal I-2022. Secara tahunan, laba bersih GGRM terkontraksi 38,37% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp 1,75 triliun setahun lalu menjadi Rp 1,08 triliun per akhir Maret 2022.

Penurunan laba bersih perusahaan terjadi akibat berkurangnya pendapatan GGRM sepanjang tiga bulan pertama 2022. Pendapatan emiten produsen produk tembakau ini turun 1,53% (YoY) menjadi Rp 29,290 triliun per akhir Maret 2022.

Penurunan terjadi karena pemasukan GGRM dari penjualan rokok dan produk terkaitnya turun. Ekspor produk tembakau GGRM turun nilainya dari Rp 437,79 miliar menjadi Rp 346,93 miliar. Kemudian penjualan rokok di dalam negeri anjlok dari Rp 29,31 triliun menjadi Rp 28,94 triliun.

Pada saat yang sama, beban usaha perusahaan meningkat dari Rp 1,792 triliun menjadi Rp 1,902 triliun. Beban bunga GGRM juga naik dari semula Rp 29,36 miliar menjadi Rp 93,84 miliar.

Hingga akhir Maret 2022 nilai aset yang dimiliki Gudang Garam mencapai Rp 88,541 triliun atau turun 1,58% YoY dari posisi per kuartal I/2021 yakni Rp 89,964 triliun.

Liabilitas GGRM turun dari Rp 30,676 triliun menjadi Rp 28,176 triliun. Kemudian, ekuitas perusahaan naik tipis dari Rp 59,288 triliun menjadi Rp 60,365 triliun pada periode yang sama.

Selain itu, adanya kenaikan cukai rokok sebesar 12% juga turut membebani kinerja emiten rokok termasuk GGRM.

Meski kinerja keuangannya kembali terpuruk pada kuartal I-2022, tetapi beberapa analis menilai bahwa tren penjualan rokok masih cukup baik. Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan emiten rokok masih ada meski terbatas.

Selain itu, investor yang cenderung merotasi pilihannya juga turut mendorong gerak saham konsumer, termasuk saham konsumer rokok yang mulai bangkit dari zona koreksinya pada hari ini.

Ada kemungkinan sektor perbankan dan komoditas harga sahamnya sudah jenuh beli sehingga sekarang saat yang tepat bagi investor untuk ambil untung (profit taking) di kedua sektor tersebut.

Di sisi lain, investor juga beralih ke saham-saham sektor konsumen yang lebih defensif dan secara valuasi masih menarik karena selama ini kinerjanya cenderung lagging.

Rotasi sektoral ini juga dapat dijelaskan dari dua sisi yaitu perbaikan kinerja dan momentum. Perlu diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin awal pekan ini telah merilis angka pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I-2022.

Ekonomi Indonesia dilaporkan tumbuh 5,01% di kuartal I-2022. Penopang utama pertumbuhan ekonomi ini adalah konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,34% pada periode yang sama.

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, konsumsi domestik merupakan tulang punggung perekonomian. Kebangkitan konsumsi domestik ini menjadi salah satu momentum yang tepat untuk berinvestasi di sektor konsumen, termasuk diantaranya konsumer rokok.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Digadang Jadi The Next ARTO, Begini Analisis Saham Allo Bank


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading