Harga Batu Bara Anjlok 1% Lebih! Sans, Nanti Naik Lagi Kok...

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
10 May 2022 06:54
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara turun pada perdagangan awal pekan ini. Namun sejumlah faktor masih mendukung si batu hitam untuk melonjak di hari-hari mendatang.

Pada perdagangan Senin (9/5/2022), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juni ditutup di level US$ 353,50 per ton. Melemah 1,35% dibandingkan penutupan Jumat (6/5).

Pelemahan ini memutus rally panjang harga batu bara yang berlangsung sejak Selasa pekan lalu. Dalam sepekan, harga batu bara masih menguat 13,08% secara point to point. Dalam sebulan, harga batu hitam juga masih melonjak 18,96% dan dalam setahun melesat 259,79%.



Pelemahan harga batu bara salah satunya dipicu oleh langkah pemerintah China untuk menstabilkan harga batu bara serta menurunnya permintaan dari Negara Tirai Bambu menyusul penerapan lockdown.

Dilansir daru Global Times, pekan lalu, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC) kembali menegaskan kebijakannya untuk "menjaga" harga batu bara di level yang masuk akal. Misalnya, untuk harga batu bara di Provinsi Shanxi-salah satu produsen terbesar- untuk kontrak jangka menengah dan panjang ada di bawah CNY 570 (US$ 85,40) per ton sementara harga di pasar spot ada di bawah CNY 855.

NDRC memastikan mereka akan mengawasi dengan ketat pergerakan harga serta kondisi pasokan/permintaan sekaligus kontrak jangka menengah dan panjang. Jika harga melambung di atas kewajaran maka NDRC akan memanggil dan membahas kondisi tersebut bersama pemangku kepentingan atau akan melakukan tindakan untuk mengembalikan harga ke level normal. Mereka juga berjanji tidak segan melakukan investigasi dan langkah lainnya demi menjaga harga tetap stabil.

Kendati turun kemarin, harga batu bara masih berpeluang naik pekan ini karena sejumlah faktor mulai dari lonjakan permintaan dari India serta hujan deras di Australia.

Seperti diketahui, Kementerian Kelistrikan India telah mengeluarkan aturan yang mewajibkan pembangkit listrik yang menggunakan batu bara impor untuk beroperasi dengan kapasitas penuh. Pemerintah India mendesak dunia usaha di negaranya untuk segera merealisasikan impor batu bara sebanyak 19 juta ton. Tenggat waktunya adalah akhir Juni ini.

Sebanyak 94 dari 165 pembangkit listrik batu bara India kini tengah dihadapkan pada persoalan pasokan batu bara yang sangat rendah. Delapan dari pembangkit tersebut bahkan sudah tidak beroperasi karena kekurangan pasokan.

Tidak hanya pembangkit, kini industri India terutama baja juga dilanda kekurangan pasokan batu bara. Jindal Steel & Power Ltd, misalnya, kini hanya menjalankan kapasitasnya sebesar 40% karena tidak punya pasokan batu bara yang cukup.

Sementara itu, hujan lebat kini mengancam sejumlah negara bagian Australia termasuk wilayah yang menjadi pusat penambangan harga batu bara seperti New South Wales. Prakiraan cuaca di Australia juga melaporkan bahwa badai dan angin kencang akan melanda Australia dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi ini membuat aktivitas pertambangan atau pengiriman batu bara terganggu. Pada Februari 2022, Australia juga dilanda banjir yang mengakibatkan harga batu bara melambung.

Australia adalah eksportir batu bara terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari Indonesia. Merujuk Data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2020 perdagangan global batu bara thermal mencapai 978 juta ton.

Indonesia adalah eksportir terbesar untuk thermal batu bara dengan kontribusi hingga 40%. Australia ada di posisi kedua dengan porsi 20%, disusul kemudian dengan Rusia (18%), Afrika Selatan (8%), Kolombia (5%), dan Amerika Serikat (2,5%).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kembali On Fire, Harga Batu Bara Naik 2,4%


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading