Investor Waswas, Bursa Eropa Ikut Anjlok Mengekor Wall Street

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
06 May 2022 17:35
A computer screen shows news about Brexit with British Prime Minister Theresa May as a broker watches his screens at the stock market in Frankfurt, Germany, Wednesday, Jan. 16, 2019. (AP Photo/Michael Probst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar ekuitas Eropa anjlok pada hari Jumat (6/5/2022), mengikuti kehati-hatian global setelah Wall Street membukukan hari perdagangan terburuk sejak 2020.

Indeks yang mengukur kinerja 600 saham utama di Eropa, Stoxx 600, turun 1% di awal perdagangan hari ini (6/5/2022), dengan penurunan dipimpin oleh saham ritel yang melemah 1,5% dengan hampir semua sektor lainnya juga meluncur ke wilayah negatif. Saham minyak dan gas tercatat mampu naik 0,7%.

Sementara itu indeks saham Inggris FTSE 100 tercatat melemah 0,72%, indeks saham Jerman DAX melemah 1,01% dan indeks saham Prancis CAC 40 melemah 1,24% pada awal perdagangan hari ini.


Kinerja keuangan perusahaan terus mempengaruhi pergerakan harga saham di Eropa, dengan Adidas dan induk British Airways IAG telah melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama tahun ini sebelum bel pembukaan perdagangan hari ini. Kinerja yang buruk membuat kedua saham tersebut tertekan lebih dari 5%.

Sementara itu perusahaan farmasi Spanyol Grifols juga menguat lebih dari 5% setelah membukukan peningkatan margin EBITDA kuartal pertama.

Sebelumnya Dow Jones Industrial Average jatuh lebih dari 1.000 poin dan Nasdaq Composite turun hampir 5% pada hari Kamis (5/5), menghapus reli kenaikan pada hari sebelumnya. Kelegaan awal atas keputusan Federal Reserve untuk tidak menaikkan suku bunga lebih agresif tampaknya malah menimbulkan kekhawatiran bahwa siklus kenaikan tajam ke depannya untuk mengendalikan inflasi dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.

Saham berjangka AS menunjukkan penjualan lebih lanjut di awal perdagangan pra-pembukaan pasar pada hari Jumat menjelang laporan pekerjaan bulan April. Sementara itu dolar juga terus menguat di tengah kecemasan ekonomi, dengan indeks dolar mencapai level tertinggi baru 20 tahun pada Jumat pagi.

Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell, mengatakan sentimen pasar telah berubah begitu para pedagang punya waktu untuk mempelajari panduan The Fed dan menilai prospek dengan lebih teliti.

"Kekhawatiran tentang inflasi adalah biang keladinya, seperti biasa, dan perubahan liar yang kita lihat minggu ini adalah pengingat bahwa sentimen [positif sebelumnya] sama rapuhnya dengan boneka porselen," katanya, dikutip CNBC International.

"Ketakutan lainnya adalah bahwa penawar bagi inflasi, tingkat suku bunga yang lebih tinggi, bisa seburuk [inflasi itu sendiri] jika [suku bunga] menghambat pertumbuhan dan bahkan menyebabkan resesi."

kebijakan moneter tetap menjadi diktator utama sentimen pasar. Imbal hasil obligasi global telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir karena investor bereaksi terhadap kenaikan suku bunga dari The Fed dan Bank of England.

Bank Sentral Eropa sampai saat ini memang belum mengikuti langkah tersebut, tetapi momentum tampaknya sedang dibangun untuk kenaikan suku bunga pada musim panas ini.

Anggota ECB dan Gubernur Bank Finlandia Olli Rehn mengatakan kepada CNBC International pada hari Jumat bahwa turbulensi pasar dapat dikaitkan dengan "ketidakpastian yang meluas" yang membayangi prospek ekonomi.

Selain itu, investor juga memantau situasi konflik di Eropa Timur, khususnya kemajuan pasukan Rusia di wilayah timur dan selatan Ukraina yang tampaknya serangan telah meningkat di wilayah tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Eropa Dibuka di Zona Hijau Menunggu Kebijakan ECB


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading