Cuan Jumbo, Investor Borong Saham Bukalapak & Naik 4,3%

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
28 April 2022 11:54
Kerjasama Bank Mandiri & Bukalapak untuk memberdayakan 1,5 juta warung Mitra Bukalapak menjadi Agen Layanan Keuangan Tanpa Kantor atau Laku Pandai. (CNBC Indonesia/Yuni Astutik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melesat hingga penutupan sesi I Kamis (28/4/2022). Investor merespons positif rilis laporan keuangan BUKA yang berhasil turnaround atau membalik rugi menjadi laba per kuartal I 2022.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUKA ditutup naik 4,30% ke Rp 388/unit, dengan nilai transaksi Rp 357,52 miliar dan volume perdagangan 930,62 juta saham.

Kendati saham melejit, investor asing malah membukukan beli bersih (net sell) Rp 66,39 miliar di pasar reguler.


Dengan ini, saham BUKA terapresiasi 4,30% dalam sepekan dan naik 2,65% dalam sebulan. Adapun, sejak awal tahun (ytd), saham ini masih merosot 9,77%.

Selain itu, harga saham BUKA masih tak kunjung kembali ke level saat penawaran saham perdana (IPO) di Rp 850/unit.

Sebelumnya, Menurut laporan keuangan perusahaan, Bukalapak mencetak laba bersih Rp 14,55 triliun per 31 Maret 2022. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, BUKA masih membukukan rugi bersih Rp 323,25 miliar.

Turnaround atau pembalikan rugi bersih ke laba bersih yang dialami Bukalapak terjadi seiring meningkatnya laba usaha secara signifikan menjadi Rp 14,42 triliun pada triwulan I 2022, dari periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan rugi usaha Rp 327,99 miliar.

Asal muasal dari meroketnya laba usaha perseroan lantaran adanya lonjakan dari pos laba nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi menjadi sebesar Rp 15,49 triliun. Pada kuartal pertama tahun lalu, pos ini hanya menyumbang Rp 297,93 juta.

Mengacu pada siaran pers Bukalapak, peningkatan signifikan pos laba nilai investasi tersebut "terutama disebabkan oleh laba nilai investasi dari PT Allo Bank Tbk."

Menurut catatan laporan keuangan BUKA, pada 24 Desember 2021, perusahaan dan pemegang saham pengendali tunggal Allo Bank (BBHI) mengadakan Perjanjian Pengalihan, dimana Perusahaan akan memiliki porsi hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 2.497.816.903 lembar saham atau 11,4946% saham baru dari total saham yang diterbitkan setelah proses Right Issue dengan harga pelaksanaan Rp 478 (angka penuh).

Adapun, HMETD tersebut sepenuhnya dilaksanakan Perusahaan pada tanggal 18 Januari 2022 dengan jumlah sebesar Rp1.193.956.480. (Rp 1,19 triliun).

Selain dari pos laba dari nilai investasi, dari sisi top line, pendapatan bersih BUKA meningkat 85,96% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 787,92 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, dari sebelumnya Rp 423,70 miliar.

Beban pokok penjualan juga tercatat meningkat menjadi Rp 509,53 miliar, dari periode sebelumnya Rp 77,10 miliar. Kemudian, beban umum dan administrasi juga membengkak dari hanya Rp 291,33 miliar pada kuartal I tahun lalu menjadi Rp 1,02 triliun pada periode yang sama 2022.

Sedikit berbeda, beban penjualan dan pemasaran turun menjadi Rp 328,71 miliar pada akhir Maret 2022, dari sebelumnya Rp 426,39 miliar.

Sementara, jika kembali mengutip siaran pers BUKA, Total Processing Value (TPV) selama kuartal pertama tahun 2022 tumbuh sebesar 25% tinimbang periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp 34,1 triliun.

Pertumbuhan TPV BUKA didukung oleh peningkatan jumlah transaksi sebesar 34% sepanjang 3 bulan pertama di tahun 2021 sampai dengan kuartal I 2022.

BUKA menjelaskan, "mitra Bukalapak merupakan penggerak utama pertumbuhan Perseroan," yang mana TPV Mitra pada kuartal I 2022 bertambah sebesar 78% menjadi Rp 17,3 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi Mitra terhadap TPV Perseroan meningkat dari 35% pada 1Q21 (kuartal I 2021) menjadi 51% pada 1Q22 (kuartal I 2022).

"Pertumbuhan Mitra ini didukung oleh berkembangnya variasi produk dan jasa yang ditawarkan oleh Bukalapak kepada para Mitra," jelas pihak BUKA dalam siaran pers, Kamis (28/4/2022).

Lebih lanjut, pada akhir Maret 2022, jumlah Mitra yang telah terdaftar mencapai 13,1 juta, meningkat dari 11,8 juta pada akhir Desember 2021.

Sementara itu, pendapatan Mitra pada 1Q22 meningkat sebesar 227% menjadi Rp 472 miliar, atau naik sebesar 47% dibandingkan 4Q21. Kontribusi Mitra Bukalapak terhadap pendapatan Perseroan menunjukkan peningkatan dari 34% pada 1Q21 menjadi 60% pada 1Q22.

"Perseroan memiliki komitmen untuk fokus pada strategi agar dapat mencapai pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, diiringi dengan pengelolaan beban yang baik. Pada periode 1Q22, rasio beban umum dan administrasi (tidak termasuk kompensasi berbasis saham) terhadap TPV menjadi 1,0% dibandingkan dengan 1,1% pada periode yang sama di tahun sebelumnya," beber BUKA.

Kemudian, margin kontribusi Bukalapak, yang dihitung sebagai laba kotor dikurangi beban penjualan dan pemasaran terhadap TPV, menunjukkan peningkatan dari -0,3% pada 1Q21 menjadi -0,1% terhadap TPV di 1Q22.

Margin kontribusi Marketplace Bukalapak terhadap TPV Marketplace meningkat dari -0,2% di 1Q21 menjadi 0,2% di 1Q22, sementara margin kontribusi Mitra terhadap TPV Mitra membaik dari -0,5% di 1Q21 menjadi -0,4% di 1Q22.

Terakhir, Bukalapak membukukan adjusted Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (adjusted EBITDA) sebesar IDR -372 miliar pada 1Q22, dimana rasio adjusted EBITDA terhadap TPV menunjukkan peningkatan dari -1,2% di 1Q21 menjadi -1,1% di 1Q22.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Bukalapak Mundur, Ingin Mengabdi untuk Negara


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading