Membara! Harga Batu Bara Naik Nyaris 5%

Market - Maesaroh & Maesaroh, CNBC Indonesia
20 April 2022 07:00
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indnesia - Tidak mau berdiam lama-lama, harga batu bara kembali meroket pada Selasa (19/4/2022). Kemarin, harga batu bara kontrak Mei ditutup di US$ 336 per ton. Menguat 4,97% dibandingkan hari sebelumnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan Senin (18/4/2022) di mana harga batu bara tidak mengalami pergerakan harga. Kenaikan harga batu bara pada Selasa juga memperpanjang level harga di atas US$ 300 yang sudah tercatat sejak sepekan lalu.

Secara keseluruhan, harga batu bara masih naik 0,42% point to point dalam sepekan. Dalam sebulan, harga batu bara melonjak 40% dan melesat 258% dalam setahun.




Kenaikan harga batu bara masih dipicu ketatnya pasokan. Keputusan Uni Eropa dan Jepang yang melarang impor batu bara dari Rusia membuat persaingan untuk mendapatkan pasokan semakin meningkat. Padahal, tanpa larangan impor pun, pasokan batu bara sebelumnya sudah ketat karena produsen utama seperti Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan mengalami persoalan produksi karena cuaca dan logistik.

China sebagai salah satu produsen batu bara juga dikhawatirkan mengalami gangguan produksi karena lockdown. Produksi batu bara China memang meningkat 14,8% (year on year/YoY) di Maret menjadi 395,79 juta ton. Namun, lockdown dalam periode lama dikhawatirkan akan mengganggu pasokan ke depan.

Pasokan batu bara juga diperkirakan semakin ketat karena banyaknya negara yang beralih ke batu bara setelah harga gas melonjak tajam. Negara-negara di kawasan Balkan yang berada di Eropa tenggara seperti Macedonia Utara kini memperbanyak penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik setelah harga gas melambung.

Meskipun harga batu bara meroket, harganya terbilang masih murah dibandingkan gas. Harga gas alam Amerika Serikat melonjak 10% menjadi US$ 8,05 per MMBTU.

"Dengan energi krisis ini, bukan hanya negara kami tetapi hampir semua negara Eropa tiba--tiba meningkatkan penggunaan batu bara untuk pembangkit mereka karena batu bara adalah sumber energi paling murah," tutur Vasko Kovacevski, CEO odari pembangkit listrik milik negara di Macedonia Utara, Elektrani na Severna Makedonija (ESM), seperti dikutip dari Reuters.

Euracoal mencatat total pasokan batu bara energi tinggi di Uni Eropa mencapai 146 juta ton di 2020, 57 juta ton diproduksi sendiri sementara 89 juta diimpor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Breaking News: Harga Baru Bara Ambrol, Jatuh Nyaris 16%!


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading