RI Waspada! Sri Lanka Sudah Terjerat 'Prank' Utang China Loh

Market - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
17 April 2022 09:00
Warga Sri Lanka meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah saat memblokir pintu masuk ke kantor presiden selama protes di Kolombo, Sri Lanka, Senin (11/4/2022). Ribuan warga Sri Lanka memprotes menyerukan agar presiden negara itu mengundurkan diri di tengah krisis ekonomi terburuk dalam sejarah. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beijing mengucurkan sejumlah pinjaman kepada Sri Lanka sejak 2005. Pinjaman senilai US$ 8 miliar ini dikucurkan melalui skema Belt and Road Initiative (BRI), salah satunya pembangunan pelabuhan Hambantota.

China memang dikenal sebagai negara yang kerap memberikan utang terhadap negara lain. Kucuran pinjaman yang diberikan kepada Sri Lanka pun jika ditotal sudah mencapai seperenam dari total utang luar negeri Sri Lanka.

sayangnya, sebagian proyek dinilai tak memberi manfaat ekonomi bagi negara itu. China juga meminta jatah ekspor produk mereka ke Sri Lanka senilai US$ 3,5 miliar.


"Dari awal, kecerobohan meminjam dari China buat infrastruktur yang tak menguntungkan membuat negara itu di titik ini," tulis media itu, mengutip laporan Hong Kong Post.

Mengutip BBC, Pemerintah Sri Lanka pada awal tahun ini mencoba melobi Beijing untuk restrukturisasi utang. Namun diketahui, China telah menolak restrukturisasi utang tersebut dan itu semakin menambah beban negeri itu.

Akibatnya, Sri Lanka kini dilanda krisis. Ini menjalar dari ekonomi ke politik. Negeri Ceylon itu mengalami kemelut terparah sejak merdeka di 1948. Ribuan warga bahkan turun ke jalan meminta pemerintah sekarang mundur.

Di lain sisi, Indonesia juga menjadi salah satu penikmat utang dari China. Mengutip data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Februari 2022, China adalah pemberi utang terbesar keempat buat Indonesia. Hanya kalah dari Singapura, Amerika Serikat (AS), dan Jepang.

Pada Februari 2022, ULN Indonesia dari China tercatat US$ 20,78 miliar. Naik 0,76% dari bulan sebelumnya (month-on-month/mtm). Dalam periode yang sama, ULN dari Singapura turun 0,75%, dari AS turun 0,22%, dan Jepang turun 0,91%.

Dari sisi mata uang, ULN terbanyak masih dalam dolar AS. Per Februari 2022, ULN berdenominasi dolar AS tercatat US$ 275 miliar.

Di posisi kedua ada euro dengan nilai ekuivalen US$ 25,15 miliar. Yen Jepang menempati peringkat ketiga (US$ 24,82 miliar) dan yuan China berada di posisi empat (US$ 4,31 miliar).

ULN dalam dolar AS tumbuh 0,38% mtm pada Februari 2022. Sementara ULN euro naik 0,17%, yen tumbuh 0,04%, dan yuan turun 0,11%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Utang Luar Negeri RI Turun Sih, Tapi Masih di Atas Rp 6.000 T


(RCI/dhf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading