AS Dihempas 'Tsunami' Inflasi, Ini Dampaknya Buat Ri

Market - Lidya Julita Sembiring-Kembaren, CNBC Indonesia
13 April 2022 09:13
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Percepatan laju inflasi menyebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga secara agresif di Amerika Serikat (AS). Dampaknya terasa sampai ke Indonesia.

Perry Warijyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), menyebut awalnya bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan lima kali tahun in. "Dengan kenaikan inflasi di AS yang tinggi, kenaikan harga energi, dan konflik Rusia-Ukraina, kami perkirakan Federal Funds Rate naik tujuh kali, dan kami lihat bisa lebih tinggi lagi," katanya dalam jumpa pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu (13/4/2022).


Malam tadi waktu Indonesia, Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan inflasi Maret 2022 mencapai 8,5% yoy. Ini adalah rekor tertinggi sejak 1981.

Akibatnya, ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih agresif semakin tebal. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pun bertahan tinggi.

"Kenaikan Federal Funds Rate, terakhir bahkan sudah menyentuh 2,3% dan mungkin akan terus naik, maka tekanan terhadap yield SBN (Surat Berharga Negara) juga meningkat. Penyesuaian yield SBN ini yang kami koordinasikan dengan Kementerian Keuangan supaya ada kenaikan tetapi wajar dan masih memberikan daya tarik arus modal asing masuk," terang Perry.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bukti Inflasi Bikin Cemas, Tetangga RI Ini Kerek Suku Bunga!


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading