Taipan Sawit Makin Tajir, Saat Rakyat Jelata Teriak Migor

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
07 April 2022 15:50
Pekerja menuang minyak curah milik Tah Lan di pasar Pondok Labu, Jakarta, Rabu, 26/1. Setelah seminggu diberlakukannya kebijakan satu harga, yakni minyak goreng berbanderol Rp 14 ribu per liter, ternyata penyesuaian harga tersebut belum terjadi di pasar tradisional. Satu di antaranya Pasar Jaya Pondok Labu, Jakarta.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Rabu (26/1/2022), harga minyak curah di Pasar Jaya Pondok Labu masih dipatok harga Rp 21 ribu per liternya dan minyak kemasan seharga Rp 20.000 per liter. 

Tah Lan, seorang pedagang warung sembako di Pasar Pondok Labu ini menilai kebijakan pemerintah dengan memberikan subsidi harga minyak sudah bagus.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pandemi virus corona (Covid-19) melanda, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) telah mengalami kenaikan sangat tajam dan berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Sebagai produsen utama dengan konsumsi domestik tinggi, lonjakan harga CPO tersebut memberikan efek ganda, ada yang sangat diuntungkan serta yang dirugikan. Paling diuntungkan tentunya perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit.

Hal tersebut terlihat dari kinerja pendapatan dan laba yang mengalami peningkatan drastis, bagi perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga sahamnya juga ikut menanjak tajam. Alhasil para bos perusahaan CPO dan pemegang sahamnya pun semakin kaya raya.


Tentu yang dirugikan adalah masyarakat luas sebagai konsumen utama produk turunan dari kelapa sawit. Harga minyak goreng yang berbahan dasar minyak sawit lainnya mengalami lonjakan harga gila-gilaan.

Di masa awal pandemi Covid-19, harga CPO memang sempat longsor. Pada Mei 2020 lalu harga CPO di Bursa Derivatif Malaysia untuk kontrak 3 bulan sempat menyentuh harga 1.939 ringgit (MYR) per ton. Tetapi sejak saat itu, harga minyak nabati ini terus menanjak.

Sepanjang 2020, minyak sawit mentah tercatat membukukan penguatan 18%, dan di tahun 2021 melesat lebih dari 30%. Kuartal I-2022 menjadi puncak meroketnya harga.

Pada 9 Maret lalu, CPO menyentuh harga MYR 7.268/ton yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa, berdasarkan data Refinitiv. Dari posisi akhir 2021 hingga ke rekor tersebut, CPO meroket lebih dari 55%.

Kenaikan tersebut merupakan dampak dari faktor musiman yang membuat tingkat produksi menurun yang diperparah oleh masalah logistik hingga meletusnya perang Rusia dan Ukraina.

CPO sebagai minyak nabati memiliki beberapa substitusi, seperti minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Saat perang Rusia dan Ukraina terjadi, pasokan minyak bunga matahari menjadi terganggu, sebab kedua negara adalah produsen terbesar.

Mengutip data dari Statista, Ukraina memproduksi 17,5 juta metrik ton biji bunga matahari di musim panen 2021/2022, sementara Rusia sebanyak 15,4 juta metrik ton. Gangguan supply tersebut membuat konsumen beralih ke minyak sawit yang membuat harganya terus melambung di tiga bulan pertama tahun ini.

Meski demikian tren kenaikannya terhenti di rekor tersebut, setelahnya terus mengalami penurunan dan menutup bulan Maret di MYR 5.705/ton. Dengan demikian, sepanjang kuartal I-2022, CPO mengalami kenaikan sekitar 21%.

Lantas bagaimana pengaruh booming harga komoditas ekspor utama RI terhadap taipan penguasa industri sawit, khususnya konglomerasi usaha sawit yang dikelola? Berikut TIM RISET CNBC INDONESIA coba menguraikan Grup Usaha yang diuntungkan dari reli harga sawit tahun ini.

Anthoni Salim Hingga Keluarga Widjaja
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading