Dikejar Waktu, 19 Bank Mini Belum Penuhi Modal Inti Rp 3 T

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 March 2022 16:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten bank mini (dengan modal inti di bawah Rp 5 triliun) terus berusaha mengejar kewajiban modal inti minimum Rp 3 triliun pada tahun ini. Tercatat, setidaknya masih ada 19 emiten bank yang belum memenuhi ketentuan tersebut.

Demi mencapai target itu, beberapa dari emiten bank tersebut akan kembali menggelar aksi korporasi penambahan modal, terutama melalui melalui rights issue.

Sekadar informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan bank untuk memiliki modal inti minimal Rp 2 triliun pada 2021 dan meningkat menjadi sebesar Rp 3 triliun per Desember 2022.


Hal ini sesuai dengan deadline yang ditetapkan dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.

Berikut ini daftar sejumlah emiten bank yang memiliki modal inti di bawah Rp 3 triliun.

Sejumlah Emiten Bank Mini dengan Modal Inti di Bawah Rp 3 T

No

Ticker

Modal Inti (Tier 1)

1

DNAR*

Rp 2.88 T

2

PNBS

Rp 2.83 T

3

MASB

Rp 2.65 T

4

AGRO

Rp 2.38 T

5

BCIC*

Rp 2.21 T

6

BVIC

Rp 2.01 T

7

AGRS

Rp 1.84 T

8

BNBA

Rp 1.60 T

9

BACA

Rp 1.57 T

10

BABP

Rp 1.53 T

11

NOBU

Rp 1.42 T

12

BMAS*

Rp 1.26 T

13

BINA

Rp 1.15 T

14

BANK

Rp 1.09 T

15

BBSI

Rp1.06 T

16

BGTG

Rp 1.05 T

17

BSWD

Rp 1.05 T

18

BBYB

Rp 1.03 T

19

AMAR

Rp 1.02 T

Sumber: BEI | Data Per Akhir Kuartal III 2021 | *Per Full Year 2021

PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), misalnya, masih memiliki modal inti di bawah ketentuan per akhir Desember 2021, yakni sebesar Rp 2,88 triliun.

Dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Januari 2022, manajemen menjelaskan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), perseroan telah menyampaikan rencana Rights Issue Rp 500 miliar di triwulan ke-4 tahun 2022, untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum Rp3 triliun.

"Sebagaimana komitmen APRO Financial Co., Ltd. [pengendali DNAR] yang telah disampaikan ke OJK pada tahun 2018. Dengan adanya rencana tersebut, per Desember 2022 jumlah modal inti perseroan diproyeksi akan memenuhi ketentuan modal inti minimum Rp3 triliun," jelas manajemen DNAR.

Setali tiga uang, emiten bank milik Grup Wings, PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) alias Bank MAS juga berkomitmen untuk memenuhi kewajiban modal inti minimum Rp 3 triliun pada tahun ini.

Dalam keterbukaan informasi di BEI, manajemen Bank Mas menjelaskan, per 31 Desember 2021, perseroan telah memenuhi kewajiban modal inti minimum Rp 2 triliun pada 2021.

Adapun total jumlah modal inti per kuartal III 2021 mencapai Rp 2,65 triliun.

Ada dua langkah yang akan dilakukan Bank MAS untuk memenuhi kewajiban modal inti minimum Rp 3 triliun pada tahun ini.

Pertama, dengan memanfaatkan dana hasil penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada Juni 2021.

Saat IPO, Bank MAS berhasil meraup dana Rp 630 miliar yang kemudian membuat modal inti bank per 31 Desember 2021 meningkat 6,25% dari posisi 30 Juni 2021 menjadi sebesar Rp 2,70 triliun.

Kedua, Bank MAS akan melakukan penerbitan saham baru yang berasal dari hasil eksekusi Waran dari para pemegang saham IPO sampai dengan 31 Desember 2022. Dengan demikian, modal inti bank yang berdiri sejak 1992 ini akan menjadi sekitar Rp 3,3 triliun.

Selain itu, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga berkomitmen untuk memenuhi kewajiban modal inti minimum Rp 3 triliun pada tahun ini.

Untuk itu, dalam keterangannya kepada BEI pada 12 Januari lalu, BBYB akan melaksanakan PMHMETD VI dengan proyeksi dana yang diperoleh sebesar Rp 5 triliun.

Teranyar, diwartakan CNBC Indonesia Selasa (22/3/2022), BBYB akan melakukan rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 5 miliar saham baru.

BBYB mengungkapkan bahwa dana hasil penambahan modal akan digunakan untuk memperkuat modal inti.

"Seluruh dana yang diperoleh dari hasil PMHMETD VI, setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan dipergunakan seluruhnya oleh Perseroan untuk memperkuat modal inti serta untuk modal kerja pengembangan Usaha Perseroan berupa penyaluran kredit dan kegiatan operasional perbankan lainnya," tulis Bank Neo dalam prospektus awal yang terbit di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip CNBC Indonesia Selasa (22/3).

Terkait harga pelaksanaan dan rasio penebusan saham baru, perusahaan belum merinci dan akan diumumkan lebih lanjut ke depannya.

Dalam prospektusnya, BBYB menyatakan bahwa rights issue ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 Mei 2021.

Perseroan dijadwalkan dapat memperoleh tanggal efektif pada 28 April mendatang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

JP Morgan: Ekosistem Jadi Kunci Pertumbuhan Bank Digital


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading