Anjlok 8%, Harga Batu Bara ke Level Terendah dalam Sebulan

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
22 March 2022 06:40
Pengapalan batu bara. (Dok: PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kian terjun bebas pekan ini. Melansir data Refinitiv, harga batu bara acuan ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak April pada perdagangan Senin (21/3/2022) ditutup di level US$ US$220,60/ton, turun 8,08%.

Penurunan tersebut jauh lebih dalam dibandingkan Kamis (0,81%) dan Jumat (5,08%). Harga batu bara pada penutupan Senin juga menjadi yang terendah sejak 21 Februari lalu (US$ 209,35/ton) atau dalam sebulan terakhir.

Dalam sepekan, harga batu bara sudah turun 27,3% meskipun dalam sebulan masih naik 5,4% dan 124,2% dalam setahun.




Terus anjloknya harga batu bara disebabkan oleh keyakinan bahwa pasokan emas hitam aman setelah China dan Australia mengeluarkan kebijakan baru.

Beijing telah meminta perusahaan energi untuk menambah pasokan batu bara mereka guna menghindari tekanan lebih besar akibat melambungnya harga komoditas energi.


Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) meminta pembangkit listrik negara tersebut untuk menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan penambang lokal. Pasokan minimal untuk 15 hari. Kebijakan tersebut berlaku efektif sejak Jumat (18/3).

Perusahaan tambang juga diminta menawarkan 80% kontrak produksi mereka melalui kontrak jangka panjang pada harga yang ditentukan pemerintah.
Pemerintah daerah diminta mengawasi semua transaksi dan kontrak untuk mencegah kecurangan dan memastikan kebijakan berjalan sesuai aturan.
Pemerintah China telah menetapkan benchmark harga batu bara di level 570-770 yuan (US$90-121/ton), lebih tinggi dari sebelumnya yang ada di kisaran 500-570 yuan.

Sebagai catatan, selama Januari-Februari, China memproduksi 686,6 juta ton batu bara, naik 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, pemerintah Australia berjanji akan mendonasikan 70.000 ton thermal coal mereka kepada Ukraina untuk memenuhi kebutuhan energi negara tersebut.

Australia juga akan mengirim pasokan batu bara ke negara-negara lain seperti Polandia yang selama ini menggantungkan impor batu bara mereka kepada Rusia.

"Pemerintah Australia telah bekerja sama dengan pelaku industri batu bara untuk memenuhi pasokan," tulis pernyataan resmi pemerintah Australia, seperti dilansir Reuters.

Harga batu bara sempat melambung setelah Rusia menyerang Ukraina pada 25 Februari lalu. Harga emas hitam melonjak cepat dari US$251,50 ke kisaran US$400. Harga batu bara menembus rekor tertingginya pada 2 Maret ke level US$446 ton dan bertahan di kisaran US$400 hingga 9 Maret (US$ 426,85/ton). Namun, setelah itu harganya amblas.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan penurunan batu bara juga disebabkan importir terbesar seperti China menambah produksi dalam negeri mereka dalam rangka mengurangi impor batu bara mereka. Harga yang terlalu melambung tinggi pada awal Desember juga menjadi sebab anjloknya harga emas hitam pekan lalu.

"Jadi, demand-nya berkurang dengan produksi dan kebutuhan dalam negeri. Hal ini pastinya menekan harga karena berkurangnya permintaan. Selain itu, harga kemarin juga sudah sangat tinggi dan membuat pasar jenuh," tutur Mamit, kepada CNBC Indonesia, Minggu (20/3).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Brol! Batu Bara Ambrol 7%...


(mae/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading