Minggu Lalu Ambruk 34%, Harga Batu Bara Masih Bisa Turun Lagi

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
21 March 2022 07:24
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara diperkirakan masih dalam tren penurunan setelah pekan lalu ambruk 34%.

Melansir data Refinitiv, harga batu bara acuan Ice Newcastle (Australia) untuk kontrak April pada perdagangan Jumat (18/3/2022) ditutup di US$ US$ 240/ton, turun 0,81% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Dalam sepekan atau dibandingkan 11 Maret di mana batu bara ditutup di US$ 361,65, harga anjlok 34%.


Terakhir kali batu bara bergerak di bawah US$ 300/ton adalah 28 Februari lalu (US$251,5/ton). Meski sedang lesu, harga batu bara masih naik 9% dalam sebulan dan melonjak 269% dalam setahun.

Harga batu bara sempat melambung setelah Rusia menyerang Ukraina pada 25 Februari lalu. Harga si batu hitam melonjak cepat dari US$251,5/ton ke kisaran US$ 400/ton.

Harga batu bara menembus rekor tertingginya pada 2 Maret ke level US$446 ton dan bertahan di kisaran US$ 400/ton hingga 9 Maret (US$ 426,85/ton). Namun, setelah itu harganya ambles.


Penurunan harga batu bara salah satunya dipicu aksi ambil untung (profit taking) hingga pekan ini, karena harganya dinilai sudah terlalu tinggi. Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan penurunan batu bara juga disebabkan importir terbesar seperti China menambah produksi dalam negeri mereka dalam rangka mengurangi impor batu bara mereka. Harga yang terlalu melambung tinggi pada awal Maret juga menjadi sebab koreksi harga.

Sebagai catatan, Selama Januari-Februari, China memproduksi 686,6 juta ton batu bara, naik 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pihak Beijing sudah meminta produsen untuk meningkatkan produksi menjelang hari libur dan perayaan festival di China. Mereka juga meminta produsen untuk beroperasi secara normal selama liburan guna menjaga pasokan dan harga.

"Jadi, demand (China) berkurang dengan produksi dan kebutuhan dalam negeri. Hal ini pastinya menekan harga karena berkurangnya permintaan. Selain itu, harga kemarin juga sudah sangat tinggi dan membuat pasar jenuh," tutur Mamit, kepada CNBC Indonesia, Minggu (20/3/2022).

Mamit memperkirakan harga bara masih dalam tren penurunan pekan ini meskipun pasokan dari Australia belum normal. Australia sebagai salah satu pemasok batu bara terbesar di dunia mengalami banjir besar awal Maret lalu yang mengganggu aktivitas penambangan.

"Kalau saya lihat trend minggu lalu sepertinya akan tetap dalam posisi yang menurun meskipun pasokan dari Australia masih belum normal," ujarnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Brol! Batu Bara Ambrol 7%...


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading