Baca Nih, Pasar Minyak Mentah Dunia Terancam, Yakin RI Aman?

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
17 March 2022 19:00
Ilustrasi Pertamax Turbo (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Pertamax Turbo (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Kenaikan harga komoditas bak dua sisi mata koin. Satu sisi menguntungkan, tetapi di sisi lain bisa merugikan. Itu sebabnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan penuh tantangan setidaknya pada kuartal I-2022.

Bagi Indonesia, tingginya harga minyak di atas kertas memberi keuntungan bagi Indonesia. Ini karena tiap kenaikan harga minyak akan meningkatkan pendapatan negara sebesar US$ 3 triliun. Meskipun beban negara turut bertambah US$ 2,6 triliun, namun tatap ada surplus APBN US$ 400 miliar.

Akan tetapi, tidak bisa semata-mata memandang Indonesia akan diuntungkan karena terjadi surplus anggaran. Sebab pemerintah juga harus menanggung beban subsidi.

"Pemerintah juga harus tetap berhati-hati dalam menyalurkan subsidi. Hal ini melihat realisasi belanja subsidi energi pada 2021 yang mencapai Rp 140,4 triliun atau 127,04% dari pagu APBN 2021," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov kepada CNBC Indonesia, Selasa (02/03/2022).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi memaparkan, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel, akan berdampak pada kenaikan subsidi LPG sekitar Rp 1,47 triliun, subsidi minyak tanah sekitar Rp 49 miliar, dan beban kompensasi BBM lebih dari Rp 2,65 triliun. Artinya, bisa berdampak pada kenaikan beban APBN sebesar Rp 4,17 triliun setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel.

Sebagaimana diketahui, subsidi BBM dan LPG 3 kg dalam APBN 2022 sebesar Rp 77,5 triliun. Subsidi tersebut dengan asumsi ICP sebesar US$ 63 per barel.

Selain itu, status Indonesia sebagai importir bersih minyak mentah dunia tampaknya akan menekan neraca perdagangan dari sisi impor. Selain karena membeli langsung minyak mentah, nilai impor Indonesia bisa menguat lantaran harga barang dari China yang berpotensi meningkat.

Sebab China sebagai konsumen terbesar minyak mentah dunia merupakan negara yang barangnya gemar diimpor Indonesia. Kontribusinya mencapai 33,73% dari total impor. Per Februari 2022, nilai impor dari Negeri Panda tersebut pun melonjak 30% yoy.

Pangsa Pasar Impor IndonesiaFoto: BPS
Pangsa Pasar Impor Indonesia

Seperti yang disebut sebelumnya, kenaikan harga minyak akan memicu inflasi global. Percepatan laju inflasi tentu akan ikut mendorong kenaikan suku bunga, termasuk imbal hasil (yield) obligasi.

"Yield surat utang Indonesia sangat mungkin untuk terus naik. Kami memperkirakan yield SUN valas tenor 10 tahun akan naik menuju 6,75% pada pekan atau bulan-bulan ke depan," tulis riset Citi.

Dokumen Nota Keuangan dan APBN 2022 mencantumkan setiap kenaikan rata-rata yield SUN 10 tahun sebesar 1%, maka belanja negara akan bertambah Rp 0,9 triliun untuk pembayaran kupon. Sementara kenaikan yield tidak menyumbang apapun di sisi penerimaan, sehingga total akan menyebabkan kerugian Rp 0,9 triliun.

Pada 2021, anggaran untuk pembayaran bunga utang tercatat Rp 366,23 triliun. Tahun ini anggarannya naik menjadi Rp 405,87 triliun. Angka ini bisa bertambah jika yield SUN terus naik.


[Gambas:Video CNBC]

(ras/vap)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

Barat Teriak Inflasi, OPEC dan Rusia Tetap Cuek

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading