Selama Perang Rusia-Ukraina Masih Ada, Batu Bara Bakal 'Gila'

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
07 March 2022 06:24
FILE - Russian 2S35 Koalitsiya-SV self-propelled howitzers roll toward Red Square during the Victory Day military parade in Moscow, Russia, Sunday, May 9, 2021, marking the 76th anniversary of the end of World War II in Europe. The Russian invasion of Ukraine is the largest conflict that Europe has seen since World War II, with Russia conducting a multi-pronged offensive across the country. The Russian military has pummeled wide areas in Ukraine with air strikes and has conducted massive rocket and artillery bombardment resulting in massive casualties.  (AP Photo, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat pada perdagangan akhir pekan lalu. Secara mingguan, perkembangan harga si batu hitam sangat mencengangkan.

Pada perdagangan akhir pekan, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) berada ditutup di US$ 407,05/troy ons. Melonjak 13,56% dibandingkan sehari sebelumnya.

Pekan lalu, harga batu bara membukukan kenaikan 61,85% secara point-to-point. Ini adalah rekor tertinggi kenaikan mingguan setidaknya sejak 2008.


Lonjakan harga batu bara sebelumnya terjadi seiring harga gas alam yang juga melejit. Pada perdagangan akhir pekan, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat/AS) ditutup di US$ 4,91/MMBtu. Melonjak 4,07% dari hari sebelumnya.

Dalam seminggu terakhir, harga gas naik 9,93%. Selama sebulan ke belakang, harga menanjak 17,06%.

Perang Rusia vs Ukraina menjadi latar belakang penyebab kenaikan harga gas. Di Eropa, Rusia adalah pemain utama gas alam. Rusia memasok sekitar 40% kebutuhan gas alam di Benua Biru.

Namun kini negara-negara Eropa berencana ogah mendatangkan gas alam dari Rusia karena serangan ke Ukraina. Parlemen Uni Eropa mendesak negara-negara anggotanya untuk menutup akses pelabuhan dari dan ke Rusia, termasuk pengiriman gas alam.

Saat pasokan gas alam dari Rusia terputus, Jerman sepertinya bakal merasakan dampak paling parah. Di Eropa, Jerman adalah konsumen terbesar gas alam asal Rusia.

Berdasarkan catatan Rystad Energy, tiga negara pemasok gas alam terbesar bagi Jerman pada 2019 adalah Rusia (55,5 miliar meter kubik), Norwegia (27 miliar meter kubik), dan Belanda (23,4 miliar meter kubik). Kontribusi tiga negara itu mencapai 92% dari total impor gas alam Negeri Panser.

Saat harga gas naik, maka harus dicari komoditas lain yang bisa menjadi pengganti. Salah satu alternatif gas untuk sumber energi primer pembangkit listrik adalah batu bara.

"Pragmatisme harus dikedepankan. Keamanan pasokan harus diamankan," tegas Robert Habeck, Menteri Ekonomi Jerman, seperti dikutip dari Reuters.

Komentar Habeck ini adalah Jerman kemungkinan akan menunda rencana mempensiunkan pembangkit listrik bertenaga batu bara yang seharusnya terjadi pada 2030. Namun dengan dinamika terbaru, sepertinya target itu akan mundur.

Prospek peningkatan permintaan seiring perburuan akan sumber energi alternatif pengganti gas membuat batu bara menjadi incaran. Jadi jangan heran kalau besok-besok harga batu bara bakal naik lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Sentuh US$ 305/Ton, Rekor Baru!


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading