Batu Bara 'Kerasukan', Seminggu Harganya Meroket Nyaris 62%!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 March 2022 11:15
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara membukukan kenaikan luar biasa sepanjang minggu ini di tengah memanasnya perang Rusia-Ukraina.

Menurut data Refinitiv, Jumat (4/3), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) berada ditutup di US$ 407,05/ton. Melonjak 13,56% dibandingkan sehari sebelumnya.


Pekan ini, harga batu bara membukukan kenaikan 61,85% secara point-to-point. Ini adalah rekor tertinggi kenaikan mingguan setidaknya sejak 2008.

Lonjakan harga batu bara sebelumnya terjadi seiring harga gas alam yang juga melejit. Kemarin, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat/AS) ditutup di US$ 5,02/MMBtu. Melonjak 6,23% dari hari sebelumnya.

Dalam seminggu terakhir, harga gas naik 9,93%. Selama sebulan ke belakang, harga menanjak 17,06%.

Perang Rusia vs Ukraina menjadi latar belakang penyebab kenaikan harga gas. Di Eropa, Rusia adalah pemain utama gas alam. Rusia memasok sekitar 40% kebutuhan gas alam di Benua Biru.

Namun kini negara-negara Eropa berencana ogah mendatangkan gas alam dari Rusia karena serangan ke Ukraina. Parlemen Uni Eropa mendesak negara-negara anggotanya untuk menutup akses pelabuhan dari dan ke Rusia, termasuk pengiriman gas alam.

Saat pasokan gas alam dari Rusia terputus, Jerman sepertinya bakal merasakan dampak paling parah. Di Eropa, Jerman adalah konsumen terbesar gas alam asal Rusia.

Berdasarkan catatan Rystad Energy, tiga negara pemasok gas alam terbesar bagi Jerman pada 2019 adalah Rusia (55,5 miliar meter kubik), Norwegia (27 miliar meter kubik), dan Belanda (23,4 miliar meter kubik). Kontribusi tiga negara itu mencapai 92% dari total impor gas alam Negeri Panser.

Saat harga gas naik, maka harus dicari komoditas lain yang bisa menjadi pengganti. Salah satu alternatif gas untuk sumber energi primer pembangkit listrik adalah batu bara.

"Pragmatisme harus dikedepankan. Keamanan pasokan harus diamankan," tegas Robert Habeck, Menteri Ekonomi Jerman, seperti dikutip dari Reuters.

Komentar Habeck ini adalah Jerman kemungkinan akan menunda rencana mempensiunkan pembangkit listrik bertenaga batu bara yang seharusnya terjadi pada 2030. Namun dengan dinamika terbaru, sepertinya target itu akan mundur.

Prospek peningkatan permintaan seiring perburuan akan sumber energi alternatif pengganti gas membuat batu bara menjadi incaran. Jadi jangan heran kalau besok-besok harga batu bara bakal naik lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Batu Bara Meroket, PNBP Sektor Minerba Tembus Rekor 1 Dekade!


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading