Ciamik! Harga CPO Naik 5,20% Pekan Ini, Minggu Depan Gimana?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 March 2022 12:15
Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Candali Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sukses mendaki tinggi sepanjang pekan ini. Bahkan, harga CPO sempat menyentuh level tertinggi sejak sekitar 42 tahun silam.

Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia berada di level MYR 6.276/ton pada Jumat (4/3). Sebelumnya harga CPO mencapai level tertinggi masa (MYR 6.808/ton) sejak 1980.

Dalam sepekan, harga CPO naik 5,20%, sedangkan sejak awal tahun sudah melesat 33,62%.


Melansir Reuters, harga minyak sawit mencapai rekor baru kemarin karena pembeli bergegas untuk mengamankan pengganti pengiriman minyak bunga matahari, minyak kedelai, dan minyak lobak yang telah terganggu oleh perang Rusia-Ukraina.

Tingginya harga CPO merupakan harga tertinggi di antara empat minyak nabati utama dan akan berdampak pada konsumen, mengingat minyak sawit digunakan dalam banyak produk kemasan, mulai dari margarin, cokelat, hingga sampo dan lipstick.

Anggota Parlemen GRC dan Kepala Eksekutif FairPrice Marine Parade Seaf Kiang Peng mengatakan bahwa beberapa bisnis akan menghadapi tekanan biaya lebih karena pasokan minyak biji bunga matahari dan komoditas pangan utama lainnya telah melonjak terkena dampak konflik.

Ukraina merupakan pengekspor minyak bunga matahari terbesar di dunia dengan pangsa pasar global sebesar 47%, jika mengacu data dari CGS-CIMB Research di Kuala Lumpur.

Minyak bunga matahari adalah minyak nabati ketiga yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah minyak CPO dan minyak kedelai.

Lalu, bagaimana dengan pekan depan?

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan akan diperdagangkan dalam mode hati-hati dengan bias naik minggu depan.

Melansir Bernama, Sabtu (5/3), antisipasi data kuat yang akan dirilis minggu depan, perang Rusia-Ukraina, dan aksi ambil untung atawa profit taking semuanya diperkirakan akan berdampak pada perdagangan CPO.

Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) akan merilis jumlah stok, produksi, dan ekspor sawit resmi pada Kamis minggu depan (10/3).

Pemilik dan salah satu pendiri Palm Oil Analytics yang berbasis di Singapura Sathia Varqa mengatakan, stok CPO per akhir Februari diperkirakan turun ke level terendah dalam 11 bulan karena peningkatan ekspor yang lebih cepat daripada produksi.

"Kenaikan data ekspor 1-10 Maret dapat meningkatkan harga dan membalikkan beberapa kerugian dari hari Jumat [lalu]," katanya kepada Bernama.

Pedagang senior CPO dari Interband Group of Companies Jim Teh mengatakan, pasar CPO diperkirakan akan tetap dalam mode berhati-hati minggu depan karena para trader masih akan mencermati perkembangan konflik Rusia-Ukraina.

"Krisis telah mengganggu pasokan minyak nabati dari kedua negara, khususnya minyak bunga matahari, sehingga mendorong permintaan minyak sawit sebagai substitusi. Akibatnya, terjadi lonjakan harga CPO," lanjutnya.

"Dengan CPO yang sekarang menjadi minyak nabati paling mahal di pasar, beberapa negara sekarang mungkin ingin memilih minyak nabati lain dan ini akan membebani harga CPO. Harga tinggi saat ini juga dapat memicu perdagangan yo-yo minggu depan karena aksi ambil untung," pungkas Jim.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sudah Naik 6,3%, Harga CPO Pekan Depan Bakal Mendatar?


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading