Analisis Teknikal

Masih ada Ruang Penguatan, IHSG Berpotensi ke 6.800 di Sesi 2

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 February 2022 12:57
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses 0,66% ke 6.778,603 pada perdagangan sesi I Selasa (15/2), berkat sentimen positif dari dalam negeri.

Investor asing masih belum berhenti memborong saham-saham di dalam negeri. Sepanjang sesi I investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 309 miliar di pasar reguler dan Rp 728 miliar ditambah pasar nego dan tunai.

Dari lantai bursa, sebanyak 268 emiten mencatat penguatan, 223 turun dan sisanya stagnan.


Kabar baik datang dari dalam negeri awal pekan kemarin. Bank Indonesia (BI) hari ini melaporkan penjualan ritel bulan Desember lalu melesat 13,8% year-on-year (yoy), lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 10,8% (yoy).

Kemudian di bulan Januari, penjualan ritel juga diprediksi masih akan terakselerasi menjadi 16% (yoy).

Selain itu pemerintah melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3.

"[Aturan WFO] sebelumnya 25% jadi 50% atau lebih. Selain itu, aktivitas seni budaya dan tempat wisata dinaikkan jadi 50%," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Selain itu, Luhut menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum melihat ada kemungkinan untuk kembali memperketat kebijakan pengetatan.

"Kita engak melihat ada pengetatan-pengetatan lagi. Kita melakukan pelonggaran, tapi dengan monitor ketat," kata Luhut dalam konferensi pers usai rapat terbatas, Senin (14/2/2022).

Kabar baik lainnya juga datang dari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor bulan Januari tercatat US$ 19,16 miliar. Sementara nilai impor Indonesia adalah US$ 18,23 miliar, melesat 36,77% (yoy).

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 930 juta

Kenaikan impor tersebut lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, yang memperkirakan impor tumbuh mencapai 53,98% (yoy), dengan neraca perdagangan diperkirakan surplus US$ 314 juta.

Meski kabar bagus terus berdatangan dari dalam negeri, tetapi pelaku pasar juga berhati-hati melihat eskalasi tensi antara Rusia dengan Ukraina juga Negara Barat.



Secara teknikal IHSG kini kembali ke atas pola Rectangle di kisaran 6.735 yang dibentuk sejak Oktober lalu. Level ini bisa menjadi kunci pergerakan IHSG di pekan ini
Batas bawah pola Rectangle berada di kisaran 6.510, artinya ada jarak sekitar 215 poin dari level tersebut ke batas atas.

Jika mampu bertahan bertahan di atas 6.735, IHSG ke depannya berpeluang naik sebesar 215 poin ke 6.950.

Apalagi IHSG IHSG juga berada di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), MA 100 dan MA 200 pada grafik harian.

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Selama mampu bertahan di atas tiga MA tersebut, berlanjutnya penguatan IHSG ke depannya masih terbuka lebar.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian mulai keluar dari wilayah jenuh beli (overbought). 

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, risiko penurunan IHSG masih cukup besar.

jkseGrafik: IHSG 1 Jam
Foto: Refinitiv 

Namun, jika melihat Stochastic pada grafik 1 jam untuk melihat pergerakan harian, yang sebelumnya berada di wilayah oversold, membuat IHSG bangkit di sesi I dan masih berpeluang berlanjut lagi sebab belum mencapai overbought. Target penguatan ke 6.780 hingga 6.800.

Sebaliknya 6.375 kini menjadi support terdekat yang akan menahan IHSG jika terjadi koreksi. Jika support ditembus, IHSG berisiko kembali ke zona merah.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awas! IHSG Masih Berisiko Longsor di Sesi 2


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading