Simak! Begini Skenario Jika RI 'Berdamai' Dengan Omicron

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
08 February 2022 13:25
Suasana ramai pengunjung Metropolitan Mall  di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (30/10). Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi yang diterapkan Pemkot Bekasi berdampak positif terhadap iklim usaha di pusat perbelanjaan atau mall. Pasalnya, aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan yang sempat anjlok saat PSBB hingga kini mulai ramai. Adanya libur cuti bersama juga membuat sejumlah warga ramai mengunjungi mall. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai, dengan adanya kebijakan itu membuat kunjungan ke mall akan kembali berangsur normal, di mana pengunjung bisa mencapai 50% dari kapasitas pusat perbelanjaan.  Pantau CNBC Indonesia sejumlah tenant both pameran di lantai pertama di padati pengunjung. Warga banyak ramai bergantian keluar masuk mall. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank multinasional terbesar di Singapura menyebut pemerintah RI terus menjalankan strategi 'hidup berdampingan dengan virus'.

Setelah mengalami penurunan, jumlah kasus infeksi harian Covid baru-baru ini meningkat tajam ke tingkat tertinggi dalam empat bulan terakhir karena varian Omicron. Bank DBS menyebut puncak kasus infeksi harian Omicron diperkirakan mencapai lima kali lipat kasus Delta.

Akibat kenaikan fantastis, mulai Senin (7/2) kemarin sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali kembali ditingkatkan status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjadi level 3.


Dengan virus yang semakin terintegrasi dengan kehidupan dan aktivitas harian, pemerintah juga terus menggalakkan program vaksinasi, dengan sekitar 65% dari penduduk yang disasar diharapkan akan terinokulasi sepenuhnya pada Maret 2022.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan aktivitas di sektor jasa yang sangat terpukul akibat pandemi dan pembatasan yang diberlakukan.

"Momentum pertumbuhan kemungkinan akan meningkat menjelang akhir 2021 karena permintaan mulai normal serta peningkatan aktivitas di sektor jasa," tulis DBS.

Terkait inflasi yang masih di bawah target, DBS memperkirakan akan terjadi peningkatan akibat tekanan sektor pangan di beberapa segmen, harga impor yang lebih tinggi, stabilisasi permintaan dan efek dasar.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia di Desember meningkat menjadi 1,87% secara tahunan (year on year, yoy), naik dari 1,75% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Bank DBS menyebut bahwa Inflasi 2022 akan ditandai oleh perubahan akibat beberapa kebijakan dan mekanisme pasar.

Reformasi subsidi terkait penyesuaian tarif bahan bakar dan utilitas jika diterapkan mungkin akan mengerek inflasi ke level yang lebih tinggi, begitu pula dengan penerapan perubahan pajak, termasuk kenaikan tarif PPN. Kenaikan tersebut kemungkinan akan memengaruhi setidaknya setengah dari inflasi dan menyebabkan kenaikan cukai tertentu

Selanjutnya produsen akan meningkatkan harga untuk mengimbangi kenaikan biaya, sebagaimana tercermin dalam inflasi harga grosir.

"Kami memperkirakan inflasi 2022 rata-rata sebesar 3% namun masih dalam target BI, yang sebesar 2%-4%," ungkap DBS.

Bank asal Singapura tersebut juga menyinggung terkait neraca transaksi berjalan yang diperkirakan akan kembali ke defisit pada 2022 karena impor meningkat meskipun kinerja ekspor, yang didorong harga komoditas, akan lebih baik.

"Meskipun surplus perdagangan Desember 2021 meleset dari perkiraan, kinerja perdagangan kuat akan menghasilkan surplus transaksi berjalan pada 2021. Kami memperkirakan surplus neraca transaksi berjalan akan berakhir di angka +0,2% dari PDB pada 2021 sebelum kembali ke defisit pada 2022," sebut DBS.

Terkait kebijakan moneter dan fiskal, DBS percaya pemerintah mampu menjaga defisit anggaran sesuai aturan berlaku, dengan tahun ini diharapkan sebesar 4,0% dari PDB, lebih kecil dari yang dianggarkan di angka 4,85%. Sementara tahun 2023 akan kembali di bawah 3%.

DBS juga memperkirakan pemerintah akan menaikkan suku bunga hingga 4,25% sepanjang tahun 2022.

"Kami menambahkan dua kenaikan sebesar 25 basis poin ke dalam asumsi kami untuk tahun ini, di luar kenaikan sebesar 25 basis poin yang sudah kami masukkan ke dalam perkiraan kami sebelumnya. Ini berarti tingkat suku bunga kebijakan akan mencapai 4,25% pada akhir tahun," tulis DBS.

Terakhir DBS juga memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 4,8% sepanjang tahun 2022. Sebelumnya pemerintah melalui BPS telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI tahun 2021 sebesar 3,69%, angka ini di atas perkiraan DBS yang memproyeksi ekonomi RI tahun lalu tumbuh 3,60%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hantu Krisis Energi, Begini Ramalan Inflasi India-RI dari DBS


(fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading