Waduh! IHSG Longsor 1,5% Lebih, Balik ke Level 6.550-an

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 January 2022 10:17
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1,5% pada lanjutan sesi I perdagangan hari ini, Selasa (24/1/2022), di tengah sejumlah sentimen negatif dari eksternal dan aksi jual oleh investor asing.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.11 WIB, IHSG merosot 1,56% ke posisi 6.551,64, dengan nilai transaksi Rp 5 triliun dan volume perdagangan 9,99 miliar saham.

Investor asing keluar dari bursa RI dengan nilai jual bersih Rp 129,82 miliar di pasar reguler, tetapi melakukan beli bersih Rp 15,98 miliar di pasar negosiasi dan pasar tunai. 


Sebanyak 108 saham naik, 419 saham turun, dan 127 saham stagnan. 

Pergerakan IHSG mengekor bursa saham Asia yang hari ini 'kebakaran'. Indeks Nikkei memimpin pelemahan dengan koreksi 2,03%.

Sementara itu, tiga indeks utama bursa saham AS atau Wall Street kompak bangkit pada perdagangan awal pekan ini.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (24/1/2022) dan menyentuh posisi terendah sejak tahun lalu.

Namun, indeks Dow Jones bangkit dan ditutup di 34.364,5, naik 0,29%. Kemudian indeks S&P 500 naik 0,28% menjadi 4.400. Lalu, Nasdaq Composite yang terungkit dengan kenaikan 0,63% menjadi 13.855.1.

Sentimen lain datang dari rapat The Fed mengenai kebijakan moneter yang bakal diumumkan pada Rabu (26/1/2022) waktu setempat. Investor mencemaskan tentang berapa kali suku bunga akan dinaikkan oleh The Fed tahun ini dan kapan kenaikan akan dimulai.

Goldman Sachs memproyeksikan kenaikan sebanyak 4 kali tahun ini. Namun, bank investasi ini melihat ada risiko bahwa kenaikan suku bunga akan lebih banyak dari itu karena lonjakan inflasi.

Kenaikan suku bunga di AS bisa berdampak pada aliran dana asing yang keluar dari Indonesia. Diperkirakan akan ada sedikit guncangan di pasar keuangan Indonesia. Walaupun tidak separah yang terjadi pada tahun 2013, karena fundamental ekonomi Indonesia yang lebih kuat.

Maka dari itu investor diperkirakan akan bersikap wait and see alias menunggu pertemuan The Fed selesai untuk mendapatkan sinyal agenda kenaikan suku bunga AS.

Selain itu, kenaikan angka kasus harian Covid-19 membayangi laju IHSG.

Investor berfokus pada perkembangan pandemi Covid-19 di Tanah Air, di mana kasus infeksi harian Covid-19 meningkat hampir 10x sejak awal tahun. Per 24 Januari angka kasus harian Covid-19 Indonesia tercatat 2.927 orang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terperangkap di Fase Sideways, IHSG Tinggalkan Level 6.100-an


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading