Belok Enggak Pake Sen, IHSG Mendadak Cetak Rekor Sejarah!

Market - Putra, CNBC Indonesia
21 January 2022 15:39
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tajam dengan kenaikan 1,5% di level 6.726,37. Penutupan pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (21/1/2022) sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sepanjang sejarah pasar modal lokal.

Meskipun di awal perdagangan sempat terkoreksi, indeks konsisten mengalami apresiasi di sepanjang perdagangan.

Level penutupan menjadi level tertinggi pada perdagangan hari ini. Data perdagangan mencatat ada 257 saham menguat, 253 melemah dan 167 saham stagnan.


Nilai transaksi mencapai Rp 11,15 triliun. Indonesia kembali kebanjiran dana asing. Investor asing terpantau melakukan aksi beli bersih atau net buy dengan nilai jumbo di pasar reguler, sebesar Rp 978,23 miliar.

Saham big bank masih menjadi primadona investor asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi dua saham dengan net buy asing terbesar hari ini masing-masing Rp 275 miliar dan Rp 147 miliar.

Sedangkan emiten PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) keduanya dilepas asing dengan net sell masing-masing sebesar Rp 19,5 miliar dan Rp 18,9 miliar.

IHSG kini menjadi jawara di kawasan Asia. Di posisi kedua ada Hang Seng yang menguat tipis 0,05%. Sedangkan Shang Hai Composite memimpin pelemahan dengan koreksi 0,91%.

Semalam kinerja Wall Street cukup mengecewakan. Ketiga indeks acuannya terbenam di zona merah.

Indeks Dow Jones turun 0,86%, kemudian indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite melemah masing-masing sebesar 1,15% dan 1,30%. Yield obligasi pemerintah AS masih tetap berada di level tertingginya.

Untuk yield obligasi tenor 2 tahun sudah berada di atas 1% yang mengindikasikan bahwa pasar mulai mengantisipasi pengetatan moneter yang dilakukan oleh the Fed.

Kemudian dari China, bank sentralnya (PBoC) justru melakukan tindakan yang berbeda. Kebijakan moneter dilonggarkan dengan menurunkan suku bunga acuan 1 tahun dan 5 tahun sebesar 10bps dan 5 bps.

Pelonggaran tersebut dikarenakan China sedang mengalami perlambatan ekonomi akibat kenaikan kasus Covid-19, kenaikan harga bahan baku hingga perlambatan sektor properti.

Dari dalam negeri kemarin BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%. Namun BI memulai langkah normalisasi dengan menaikkan GWM rupiah untuk bank konvensional, komersial dan syariah mulai Maret 2022.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini 10 Saham yang Bikin IHSG Rontok


(trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading