Cek Gan! Ini 5 Saham Idola Asing selama Awal 2022

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
20 January 2022 07:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbenam selama tiga hari beruntun, sejak awal tahun atau year to date (ytd), indeks saham acuan tersebut masih tumbuh 0,16%.

Selain itu, dana investor asing juga banyak masuk ke bursa saham Tanah Air sejak awal 2022. Asing juga tercatat memborong sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap), terutama saham perbankan raksasa.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 0,33% ke posisi 6.591,98 pada Rabu kemarin (19/1). Dengan ini, dalam 3 hari pertama minggu ini IHSG terus terpuruk di zona merah.


Kemarin, saat IHSG terjungkal, asing melakukan beli bersih (net buy) Rp 143,16 miliar di pasar reguler dan Rp 14,71 miliar di pasar negosiasi & pasar tunai.

Sementara, secara ytd, investor asing melakukan beli bersih Rp 6,90 triliun di pasar reguler. Seiring dengan itu, sebagian dana asing tersebut berlabuh ke saham-saham big cap di bursa.

Berikut 5 besar saham yang paling banyak diborong asing sepanjang awal 2022.

  1. Bank Central Asia (BBCA), naik secara ytd +5,14%, ke Rp 7.675/saham. Net buy asing Rp 2,3 T

  2. Bank Jago (ARTO), +18,59%, ke Rp 18.975/saham. Net buy asing Rp 1,3 T

  3. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), +0,49%, ke Rp 4.130/saham. Net buy asing Rp 871,6 M

  4. Elang Mahkota Teknologi (EMTK), -18,64%, ke Rp 1.855/saham. Net buy asing Rp 580,0 M

  5. Telkom Indonesia (TLKM), +5,20%, ke Rp 4.250/saham. Net buy asing Rp 463,4 M

Menurut data di atas, dari 5 saham yang ada, 3 saham merupakan saham sektor perbankan. Sementara, dua sisanya, yakni emiten sektor teknologi EMTK dan telekomunikasi BUMN TLKM.

Saham BBCA, pemimpin kapitalisasi pasar (market cap) di bursa, tercatat paling banyak dikoleksi asing secara ytd, yakni mencapai Rp 2,3 triliun.

Seiring dengan itu, harga saham BBCA juga terangkat 5,14% ke posisi Rp 7.675/saham.

Asal tahu saja, kapitalisasi pasar saham BBCA mencapai Rp 946,14 triliun saat ini.

Di posisi kedua ada saham ARTO yang berhasil melesat 18,59% ke Rp 18.975/saham di tengah aksi beli bersih asing Rp 1,3 triliun.

Dengan performa yang ciamik tersebut, market cap saham ARTO pun melambung. Saham ARTO pun menempati posisi kelima market cap paling jumbo di bursa (Rp262,92 triliun), menggeser posisi emiten Grup Astra PT Astra International Tbk (ASII).

Setelah 'ditendang' dari 5 besar oleh ARTO, saham ASII masih berada di peringkat keenam dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 226,71 triliun di harga Rp 5.600/unit.

Sebelumnya, Bank Jago tercatat telah menyerap hampir seluruh dana rights issue. Mayoritas serapan dana ini digunakan untuk penyaluran kredit.

Bank Jago memperoleh tanggal efektif rights issue dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) pada 24 Februari 2021. Perusahaan meraup dana segar bersih Rp 7,03 triliun melalui aksi korporasi yang sekaligus mengukuhkan Bank Jago menjadi bank digital ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Jumat (14/1/2022), Bank Jago telah menggunakan Rp 6,82 triliun atau sekitar 97% dari total dana rights issue untuk penyaluran kredit.

Bank Jago juga menyerap Rp 140,67 miliar untuk investasi infrastruktur teknologi informasi. Sedangkan sebesar Rp 22,67 miliar digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia.

Jika ditotal, realisasi penggunaan dana hasil rights issue Bank Jago mencapai Rp 6,98 triliun. Ini setara dengan 99,32% dari total dana hasil rights issue.

Sisa dana hasil rights issue sebesar Rp 47,66 miliar diletakkan pada instrumen surat berharga negara dengan kisaran kupon mulai dari 5,47% hingga 8,12%.

Tidak hanya BBCA dan ARTO, saham bank BUMN BBRI juga mencatatkan net buy asing Rp 871,6 miliar secara ytd. Berkorelasi dengan itu, harga saham bank 'wong cilik' ini pun naik 0,49% ke Rp 4.130/saham.

Saham BBRI berada di posisi kedua market cap terbesar dengan nilai Rp 625,94 triliun.

Di antara saham tersebut, hanya saham EMTK yang anjlok dalam kendati disuntik oleh investor asing sejak awal tahun.

Asing mencatatkan beli bersih Rp 580,0 miliar sejak awal 2022 hingga penutupan Rabu kemarin (19/1), tetapi harga saham emiten milik pengusaha Eddy K. Sariaatmadja ini malah terjun 18,64% ke Rp 1.855/saham.

Sejak menyentuh level Rp 2.470/saham pada 7 Januari 2022, saham EMTK cenderung dilego investor. Bahkan saham ini sempat terjungkal selama 4 hari beruntun (10-13 Januari). Kemudian, dalam 3 hari pertama minggu ini, saham EMTK juga terus berada di zona merah.

Kabar teranyar, Emtek resmi mengakuisisi 93% saham PT Bank Fama International pada 22 Desember 2021 lalu. Akuisisi ini dilakukan melalui anak usahanya PT Elang Media Visitama (EMV).

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan, EMV telah menandatangani akta jual beli saham pada 22 Desember 2021 lalu efektif mengakuisisi Bank Fama setelahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menguat 4 Hari Beruntun, IHSG Pertahankan Level 6.600-an


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading