Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara turun pada perdagangan kemarin. Maklum, sebelumnya harga sudah melonjak tajam.
Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 214,9/ton. Berkurang 0,97% dari hari sebelumnya.
Koreksi ini terjadi setelah harga si batu hitam naik empat hari beruntun. Selama empat hari tersebut, harga meroket 29,09%. Wow...
Oleh karena itu, harga batu bara akan selalu dibayangi risiko koreksi. Iming-iming cuan gede akan menggoda investor untuk menjual kontrak batu bara. Tidak heran harga pasti bakal turun karena tekanan jual, dan sepertinya itu yang terjadi.
Dari sisi fundamental, perkembangan di China juga kurang menguntungkan bagi batu bara. Biro Statistik China mengumumkan produksi batu bara tumbuh positif.
Pada Desember 2021, produksi batu bara Negeri Panda tercatat 384,67 juta ton, tumbuh 7,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini membuat produksi sepanjang 2021 menjadi 4,07 miliar ton, naik 4,7% yoy.
Pemerintahan Presiden Xi Jinping menginstruksikan produsen batu bara untuk tetap mempetahankan produksi pada masa liburan Tahun Baru Imlek. Periode tersebut adalah puncak aktivitas masyarakat, yang juga menjadi puncak konsumsi listrik.
Li Yunqing, pejabat di Komite Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC), menyebut konsumsi listrik pada 2021 melesat 10,3% yoy. Pada 2022, konsumsi listrik diperkirakan tetap tumbuh positif.
Menurut catatan NDRC, stok batu bara di pembangkit listrik utama Negeri Tirai Bambu per 16 Januari 2022 cukup untuk 21 hari. "Permintaan rumah tangga dan industri sudah terpenuhi dengan baik," tegas Li, seperti dikutip dari Reuters.
Indonesia memang eksportir batu bara nomor satu dunia. Namun soal produksi, China adalah rajanya.